Monday, May 14, 2012
Menepis Galau
Saturday, March 3, 2012
Kepemimpinan dan Kemandirian Nasional
Membaca koral lokal hari Jumat, 2 Maret 2010 tentang mobil esemka yang tidak lulus uji emisi BPPT serta pro dan kontra yang menyertainya seolah menghentak kesadaran saya sebagai anak bangsa. Terlepas dari setuju atau tidak setuju adanya mobil esemka, saya melihat adanya momentum kebangkitan nasional dengan munculnya mobil buatan siswa-siswa SMK ini. Momentum tersebut adalah sebuah inisiasi untuk menunjukkan keberadaan kita sebagai bangsa yang mampu menghasilkan sebuah produk, bukan hanya bangsa yang rakus menyantap produk-produk luar negeri saja. Gegap-gempita sambutan kemunculan SMK yang ditandai dengan heboh pre order yang mencapai ratusan unit dalam waktu singkat menunjukkan adanya pengakuan dan apresiasi dari warga masyarakat. Lantas di mana pemerintah di tengah euforia mobil esemka ini? Kita tidak melihat keberpihakan pemerintah dalam kasus ini, apakah akan mendukung atau justru akan memberangus nantinya atas nama kepentingan modal yang lebih besar.
Sejak berita heboh mobil Kiat Esemka di berbagai media, publik tidak melihat pemerintah (dalam hal ini presiden) memberikan respons. Nampaknya kehebohan ini biarlah menjadi kehebohan rakyat jelata saja. Mungkin saja pemerintah sudah sibuk dengan urusannya, termasuk partainya masing-masing. Jika demikian apakah pemerintah sudah berlaku secara patut menjalankan tugasnya? Mari kita lihat sejenak konstitusi kita UUD 1945. Tengoklah dan cermati alinea ke-4nya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, …
You see … Konstitusi mengamanatkan bahwa pemerintah harus melakukan tindakan yang memiliki tujuan dengan dimensi sangat besar sebagaimana telah disebutkan oleh konstitusi di atas. Jika kita cermati ternyata pemerintah kita tidak melakukan sesuatu, what should we conclude then? Apa yang bisa kita simpulkan atau kita nilai atas sikap pemerintah tersebut?
Saya membuka interpretasi dan apresiasi dari Anda sekalian para pembaca, namun sejauh yang saya yakini, dengan tidak melakukan apa-apa maka pemerintah kita tidak cukup serius melaksanakan amanat konstitusi. Mobil esemka jika dibandingkan dengan mobil konvensional buatan pabrik tentunya jauh berbeda. Namun perlu diingat bahwa mobil ini adalah karya anak bangsa yang perlu didukung dan didorong untuk menjadi bukti eksistensi penguasaan teknologi. Bukan mustahil hal ini menjadi starting point industri otomotif nasional yang merupakan karya asli anak bangsa. Sudah barang tentu hal ini akan memberikan multipier effect yang sangat besar di bidang teknologi, ekonomi, kebanggaan sebagai bangsa serta sosial.
Jika industri otomotif nasional berkembang maka teknologi pada sektor lain akan turut terpacu sehingga teknologi nasional akan semakin kompetitif. Dampak lain pada bidang ekonomi akan mengundang arus perputaran uang yang besar untuk modal dan penyerapan tenaga kerja. Pembukaan lapangan kerja secara tidak langsung akan menggerakkan ekonomi lokal, regional bahkan mungkin dalam skala nasional. Di luar itu, produksi mobil nasional yang mampu bersaing dengan produk luar akan memompa semangat nasionalisme dan membuktikan bahwa kita bukan bangsa konsumtif serta pecundang. Kita mampu dengan kepala tegak menunjukkan karya asli kita yang dapat menjadi kebanggaan nasional. Oleh karena itu, dari hal yang sederhana tersebut akan memberikan beragam keuntungan bagi bangsa pada masa mendatang.
Namun, kembali kepada pemerintah apakah pikiran semacam itu ada? Apakah kepemimpinan nasional sekarang ini menyadari bahwa setiap upaya dan produk yang dihasilkan anak bangsa akan memiliki dampak yang besar pada kemudian hari?
Kepemimpinan adalah proses manajemen yang berpadu dengan seni interpersonal untuk mencapai sebuah tujuan. Sudah barang tentu kepemimpinan ditandai dengan kerelaan untuk berpikir dan bertindak yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat luas. Kebalikannya, tidak adanya tindakan justru akan mendorong kepada delegitimasi dan kegagalan proses kepemimpinan itu sendiri. Jika pemimpin tidak mau bertindak maka perlu dipertanyakan obsesi besarnya untuk membawa bangsa ini kepada tujuan-tujuan besar sebagaimana yang telah digembar-gemborkan saat kampanye dulu. Bangsa membutuhkan kepemimpinan yang dapat mendorong kinerja dan kreatifitas untuk mencapai hasil yang nyata dan konkret. Hal-hal seperti ini yang dalam jangka panjang akan mendorong terciptanya kemandirian nasional karena kepemilikan keunggulan, baik dalam bidang teknologi, ekonomi, sumber daya maupun nation pride.
Monday, April 26, 2010
TRUK SAMPAH
Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yg benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut. Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya & memaki ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang tersebut. Saya sangat heran dgn sikapnya yg bersahabat. Saya bertanya, "Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!"
Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah". Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya & seringkali mereka membuangnya kepada anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup. Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan.
Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati. Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak.
Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu MENYIKAPINYA ....
U CHOOSE TO BE HAPPY OR GRUMPY .. IT'S JUST A MATTER OF CHOICE !!!
Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.
Selamat menikmati hidup yang diberkati & bebas dari "sampah"
Friday, April 23, 2010
SAYA adalah SAYA ..
Tadi pagi ketika sedang business breakfast dengan seorang entrepreneur wanita yang berhasil, iseng-iseng saya bertanya: "Suami kamu bertanggung jawab ga atas hidup kamu?".
Well, jawaban yang diberikan sangat jarang saya dengar.
"Suami saya orangnya bertanggung jawab. Sepanjang yang saya ketahui, dia setia, tidak pernah selingkuh, orangnya rajin dan ulet, dia cermat dalam setiap pengeluaran keuangan, dia komit pada pekerjaannya, dan dia sayang keluarga. Tetapi dia tidak bertanggung jawab atas hidup saya!"
"Lohhh, maksudnya gimana?" Saya jadi semakin tertarik mendengarnya.
"Maksud saya, suami saya tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kegembiraan saya! Ketika kami bertengkar karena berbeda persepsi; ketika dia nyuekin saya karena lelah sehabis pulang dari kantor; ketika dia melupakan ulang tahun perkawinan kami karena lagi bertugas ke luar kota, saya sedih. Saya sangat sedih."
Kemudian saya membaca sebuah artikel bahwa "SAYA yang seharusnya bertanggung jawab atas hidup saya, atas kebahagiaan, dan atas kegembiraan saya, BUKAN orang lain! Setiap manusia punya TEATER di pikirannya, dan karena TEATER tersebut adalah milik saya, kenapa saya tidak memutar film, musik yang berMANFAAT untuk menciptakan kebahagiaan dan kegembiraan saya?!"
"Mungkin suami saya belum mempunyai PETA (MAP) tentang sesuatu yang saya inginkan" --> Saya bisa memberitahunya sehingga dia paham ketimbang kami harus bertengkar.
"Mungkin suami saya lelah dan lagi tidak fokus karena pekerjaannya yang sangat menyita waktu dan tenaga" --> Saya bisa mengingatkan dia sehingga dia tidak lupa lagi ketimbang kami harus diam-diaman selama 1 minggu. WOWWW... saya terkesima dan saya lalu minta ijinnya untuk berbagi pengalaman dan diskusi BERHARGA ini kepada rekan-rekan.
Entah SEKARANG maupun NANTI, bahwa Anda semua yang berTANGGUNG JAWAB atas PIKIRAN dan PERASAAN Anda. Jangan berharap suami, pasangan, rekan kerja, teman, orang lain bisa mengerti Anda dan membuat Anda bahagia, senang, atau bergembira. Mungkin bisa, sekali-sekali, tetapi most of the time, Anda sendirilah yang menentukan dan mendesign pikiran dan perasaan Anda!
SUKSES selalu untuk Anda dan selamat melanjutkan kembali aktivitas Anda!
(dari seorang teman di sebuah milis)
Kadang kita malah berlaku sebaliknya, sangat memiliki ketergantungan kepada orang lain sehingga ketika gagal dengan mudahnya kita akan menyalahkan atau mengkambinghitamkan orang lain.
Mari kita belajar dan memulai berkata inilah SAYA .. dan SAYA bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan.
Semoga hari kita menyenangkan!
Monday, April 13, 2009
Setelah pesta usai ..
Sunday, February 1, 2009
Jangan percaya IKLAN POLITIK
Politik itu BERPIKIR, BERBICARA dan BERBUAT ya tho?
Tuesday, January 27, 2009
"Malaikat-malaikat" di pinggir jalan
Wednesday, August 6, 2008
Mental Asia
Dulu sih hanya dengar dari teman-teman kalo perilaku kita bakalan mendadak-dangdut berubah drastis karena hidup di negara yang penuh aturan, tatanan, civilized, apalah itu ... Yang jelas, bener kata pepatah di mana langit dipijak di situ bumi dijujung. Di mana kita ada ya kita harus tunduk-taat pada tatanan yang berlaku, salah-salah bisa urusan tambah panjang huehuehuehue ...
Ada teman pernah bercerita pada saya sepulang 7 tahun tinggal di Jepang maka harus pulang ke Indonesia yang sudah tentu sepesawat dengan bolo-bolo orang Indonesia pula. Saat di Narita, ngantri dan ngikutin proses ... semua sangat teratur, rapi-jali ... eh giliran sampai Ngurah Rai, ketahuan aslinya yang suka pada nyerobot antrian dan bergerombol di depan counter desk ... o lalala Indonesiaku. Kok gak ngaruh ya udah pernah ke mana-mana penjuru dunia, tetep saja mentalnya mental nyrobotan.
Di tempat saya sekarang nun jauh di midwest Amerika, lagi-lagi saya harus menemui hal serupa, tapi untungnya bukan oleh teman-teman saya sendiri .. the Indonesians, tapi katakanlah oleh teman-teman yang dari China dan India.
Ada juga bisik-bisik waktu di Denver International Airport bahwa kadang kelakuan front office terhadap mereka yang berkulit berwarna rada nggak sopan awal-awalnya. Yah kaku banget gitu ... tapi mungkin kalo ud familiar ya baik-baik aja .. itu karena denger-denger orang Mexico atau Cina yang sering rese (minta) nyerobot antrian dengan berjuta alasan. (Saat saya di DIA juga melihat dengan mata kepala saya sendiri seorang ibu Hispanik dengan bolo kurowonya memohon nyerobot antrian karena bla bla bla .... kok kaya ga ngerti aturan check-in dan boarding ya? Alasannya sepele lagi ... saya nelpon seseorang untuk njemput tapi dia nggak ngangkat telponnya, jadinya saya terlambat gini ... huuuhh. Padahal setelah check-in masih harus ngantri di TSA buat dideteksi macem-macem yang minimal makan waktu sejam ngantri. Makanya airline mewanti-wanti kalo check-in 45 menit sebelum pesawat berangkat, bakal di suruh mundurin tuh karena bakalan mempersulit penumpang lain).
Nha kalo cerita teman-teman saya yang dari RRC itu terjadi saat Bill Clinton dan Barrack Obama datang ke universitas. Dua jam sebelum acara dimulai sudah diminta mulai ngantri karena ada pemeriksaan dari TSA (Transportation Security Administration) ma Laramie Police, jadi kita harus melewati pintu detektor dan mengeluarkan semua barang yang berbau logam serta mengaktifkan alat elektronik yang kita bawa. Kebanyangkan kalo 1 orang butuh 30 detik, berapa waktu yang dibutuhkan untuk sekitar 1000 atau 7000 orang?
Pas kita lagi ngantri ... sambil ngobrol .. eh datang teman-teman dari RRC dengan enaknya melewati kita (yang jaraknya sekitar 500 m dari pintu masuk), antrian panjang pula .... eh sampai di dekat pintu mereka berhaha hihi njuk mak bledeng masuk ke antrian yang tinggal sak nyukan ke pintu pemeriksaan. Owwwalaaah ...
Saya nggak bisa mbayangin komentar bule yang ada di belakang mereka, yang jelas mereka pasti nggondhuk banget ... dasar!
Saat kita ketemu mereka dan komplain, eh kamu kok nyerobot antrian? Dengan cuek tanpa dosa mereka njawab .. emang napa? Hahhhh? Capeee deh ...
Satu lagi cerita teman saya dari India yang sama-sama hobby badminton. Saat summer di mana kehidupan kampus "melambat" karena tidak terlalu banyak aktifitas, maka kegiatan di Gym termasuk badminton juga dibatasi. Kalau biasanya kita main badminton setiap Jumat dari jam 6-10 malam maka saat summer hanya boleh dari jam 6-8 malam saja.
Dan sudah jadi kesepakatan tidak tertulis kita bahwa jam 8.00 tit kita stop dan bantu-bantu mengemasi net dan tiang-tiangnya.
Minggu kemarin saya main double dengan teman dari India berhadapan dengan double dari Cina. Saat jam menunjukkan 7.55 saya sudah mau mundur meski kedudukan 13-11 (sementara kami unggul setelah set 1 kalah 21-17), tapi mereka bilang ayolah Ghulam 5 menit lagi ..
Saat jam menunjuk 8.00 kedudukan 17-15 (kami masih unggul lho ..), pasangan Cina lawan main kami mengundurkan diri .... saya juga ikutan, tapi si temen yang India ini ngotot untuk meneruskan pertandingan dengan alasan karena nggak ada yang jaga ... ayolah!
Jujur saja, nggak memandang dia dari India, PhD student atau apalah ... saya langsung muak dengan sikapnya dan terlintas kebanyakan mental saudara-saudara saya yang sering mengatakan hal yang sama ... mumpung ga ada polisi, ga ada yang ngawasi ... ga ada atasan ... sebagai legitimasi untuk melakukan penyimpangan.
Ternyata nggak cuma Indonesia, yang lain juga seperti itu .. makanya saya berani mengatakan mental Asia. Benar atau tidak wallahu'alam ... saya yakin masih banyak yang lurus-lurus, tapi kalo yang melenceng begini didiamkan dan ditoleransi, sampai kapan pun kita tidak akan bisa menyaingi negara-negara maju yang sangat komit dengan aturan dan hukum.
Anda setuju?
Thursday, July 31, 2008
BILL part 2
Tuesday, July 29, 2008
Toni Boster
Friday, July 18, 2008
Quo Vadis Indonesia?
Thursday, July 10, 2008
Etika dan komitmen
Tuesday, July 8, 2008
Ulang tahun pernikahan
Saturday, July 5, 2008
Cerita CINTA
Kalo dihari ini kita berhenti ...
Tuesday, July 1, 2008
Monday, June 30, 2008
Belajar dari Spanyol ...
Saturday, June 28, 2008
Go Blog ...
Saya kenal menulis bukan dari sekolah, tapi justru dari ibu saya yang guru .. saya inget saat SD saya suka banget mengarang dan bahkan sering mendapat nilai bagus. Karangannya ya sebatas hal-hal yang normatif, misalnya tentang alam sekitar, liburan, suasana di desa. Soal substansi ibulah yang mengarahkan, lha kalo soal tulisan ini kerjaannya bapak yang sering mencorat-coret buku saya dengan ballpoint merah dengan tulisan yang berbunyi sangat provokatif ... tulisan yang rapi, jangan kaya cakar ayam! Giliran buku itu dipinjam teman saya mereka pada kaget kok ada tulisan seperti itu, ya saya bilang aja .. itu bapakku yang lagi ajar nulis di bukuku, hehehe ... Peace lho Pak ..
Yang jelas, menulis itu butuh input baik dari sekedar ngalamun, refleksi atas berbagai kenyataan hidup atau dengan membaca yang semua itu membuat otak kita "bekerja", mikir, menganalisa ... mengotak-atik dan memunculkan sebuah ide baru. Bisa jadi ide itu merupakan kritik, saran, sanggahan atau alternatif solusi dari sebuah permasalahan.
Semakin lama menekuni menulis di blog, semakin banyak hal yang dapat saya peroleh (teman baru, ide, pengetahuan, bahkan sampe tempat makan di sebuah kota yang ditulis oleh sesama blogger), semua bagi saya merupakan "makanan otak yang sehat". Sudah tentu blog yang isinya cuma iklan atau sekedar narsis tidak akan saya singgahi atau saya pasang sebagai link. Memang sih, dari jutaan blog di dunia maya ini tidak semuanya baik ... selain dua hal di atas, kadang blog juga dijadikan ajang agitasi, provokasi atau offensive kepada pihak lain, yah kita masih bisa memilih kok ... jenis blog apa yang bakal menjadi "makanan" kita ..
Terlepas dari semua itu, saya memandang blog bisa menjadi bahan pendidikan politik bagi semua orang, yang diawali dengan kebebasan mengeluarkan pendapat, ide, kritik, sebatas hal itu tidak merupakan fitnah, agitasi atau penistaan. Dengan menulis dan membaca blog kita mendapatkan pengetahuan yang memadai sebagai referensi kita dalam mengambil keputusan dan bertindak. Kita jadi tahu untung-rugi sebuah alternatif tindakan, kita bisa menilai mana yang baik dan yang buruk ... dan kita dapat bersikap lebih dewasa, arif dan bijak dalam menghadapi sebuah kesempatan untuk bertindak.
Semoga penemu blog ini akan selalu dilimpahi dengan berbagai kenikmatan dan keberuntungan, karena telah membuka satu cakrawala pengetahuan di dunia maya yang menjadi semakin penting di era modern ini. Dan mari kita gunakan blog untuk sesuatu yang bertujuan positif, bermanfaat bagi kita maupun orang banyak. Go Blog ...
Friday, June 27, 2008
Kenduri Cinta
Bagi saya, di tengah carut-marut kondisi kebangsaan kita ternyata masih saja ada ruang untuk misuhi atau mengumpat diri sendiri, menertawakan ketololan kita, mengkritik dengan jenaka tanpa harus berkata beringas ... bubar ... bunuh ... sesat ... atau menegakkan mainstream atas nama apapun. Bagi Anda yang Islam, Kristen, Katholik, Kong Hu Cu, Hindu, Budha, atheis, agonis ... silakan saja dateng atau menyimak kenduri cinta dan mari kita menertawakan diri kita sampai semua energi buruk kita terbuang dan pulang dengan membawa pesan kehidupan dari interaksi kita dengan emha yang edan itu. Dengan fasihnya dia berkhotbah tentang jawa (sebagai sebuah entitas bukannya kesukuan semata), agama, politik, budaya, atau juga masalah aktual dengan gaya nJombang-nya yang bernas, blak-blakan serta jenaka. Kita dibawanya mengarungi khazanah kengawuran dunia dalam bingkai kebijakan seorang emha ... bagaimana ia bicara tentang keadilan di tengah ketidakadilan yang merajalela, kejujuran di antara kebohongan yang sudah mendarah daging, dan idealisme sebagai sebuah bangsa di dalam keterpurukan yang sudah mulai parah ini yang akhirnya keluar dengan sebuah pemahaman ... kita harus melakukan sesuatu! Ndandani atau memperbaiki bangsa ini tidak perlu dengan teriak-teriak dan menunjukkan jari kita ke arah orang lain. Marilah mulai dari diri kita sendiri .... Aku iki sopo seee (dengan logat nJombangan-nJogjakarta hehehehehe). Siapa dirimu ... siapa dirimu yang sejatinya? Apakah kamu sebuah Garuda yang gagah perkasa atau sekedar emprit yang di-casting (pura-pura) jadi Garuda.
Kenduri cinta tidak melulu bicara tentang cinta atau romantisme cinta semata tetapi cinta sebagai sebuah hal yang universal .. fitrah seorang manusia, bahwa cinta tidak melulu bicara tentang lawan jenis, kegagahan atau kecantikan, kekaguman dan perbudakan (katanya kalo lagi jatuh cinta orang jadi tolol bener he...), tuntutan dan penguasaan ... tetapi dalam kenduri cinta kata cinta menjadi sangat universal dan tertransformasikan dalam berbagai tindakan positif ... saya menghormati sampeyan itu sama dengan saya mencintai sampeyan ... saya mengkritik DPR yang suka ngapusi rakyat itu kadarnya sama dengan saya mencintai anggota DPR yang saya kritik itu ... saya mengatakan pemerintah tidak bisa ngatur negara (lha wong kita kaya akan minyak kok bisa harganya semelangit ini, sampeyan bisa kasih jawaban?) bukan karena saya benci sama pemerintah, SBY, JK atau Purnomo Yusgiantoro ... tapi itu ekspresi kecintaan saya sebagai seorang sahabat sebangsa ...
Sayangnya, orang seperti emha ini termasuk mahluk yang sangat langka di Indonesia. Ketika orang mulai berbicara idealisme ... masuklah ia ke sebuah kamar gelap, jauh dari selebrisitas dan gemerlapnya lampu kamera ... tidak banyak orang mau "menyentuh" atau "mengunjungi"nya ... alergi mungkin, he ...
Tapi nggak papa Cak Nun ... doa dan pinta saya semoga sampeyan tetep waras (jasmani) dan edan (rohani), bangsa ini butuh banyak orang seperti sampeyan yang edan ... mau serta mampu menyuarakan suara rakyat yang tidak pernah mau di dengar oleh mereka yang katanya "wakil rakyat" dan "pengemban amanat penderitaan rakyat".
Selamat berdasawarsa Kenduri Cinta ... rahmat Allah Ta'ala semoga selalu tercucur , makin banyak rejeki, ide dan karya bagi bangsa kita tercinta.
