Monday, May 14, 2012

Menepis Galau

Nampaknya galau sedang menjadi tren dewasa ini. Kebingungan, kegamangan dan berhenti pada satu titik alias stuck dengan beragam manifestasinya seperti malas, resah, gelisah, gundah menjangkiti hampir semua kalangan. Mungkin masalahnya karena pikiran, pasangan, urusan yang belum selesai, uang atau kecengan. Anyway, pengamatan dan pengalaman saya menyimpulkan galau sangat kontraproduktif. Hal yang seharusnya dikerjakan menjadi ditunda, hal yang harus diselesaikan malah di-cancel atau dihindari,masalah yang harus diselesaikan malah diabaikan.Ujung-ujungnya segala yang harus dilakukan jadi tercerai berai tidak karuan. Jelas itu semua bikin biaya menjadi nambah. Stok kesabaran dan emosi melorot drastis dan ujungnya bisa-bisa bikin stress.

Jadi harus bagaimana?

Galau akan semakin parah jika kita tidak melakukan reorientasi urusan dan waktu, untuk itu cobalah untuk berhenti sejenak ... stop internet, matikan HP, cari tempat yang nyaman, bawalah balpoint dan kertas kosong.
Mulailah menuliskan ..
1. Urusan-urusan yang harus kita kerjakan beserta tenggat waktunya.
2. Waktu yang kita miliki selama 24 jam dalam sehari
3. Reorientasi dengan membuat prioritas urusan dan alokasi waktunya.

Jika sudah ketemu maka MULAILAH, jangan lupa berdoa memohon kepada Tuhan untuk memberikan kekuatan dan kelancaran.

Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi KETAKUTAN yang membuat kita sulit.
Karenanya jangan pernah menyerah.
Nyatakan bahwa saya punya Tuhan yang Mahasegalanya untuk mengatasi segala masalah-masalah saya.

-contekan BBM dari mas Dimas, ali bin abi thalib-

Tetap semangat! 
   

Saturday, March 3, 2012

Kepemimpinan dan Kemandirian Nasional

Membaca koral lokal hari Jumat, 2 Maret 2010 tentang mobil esemka yang tidak lulus uji emisi BPPT serta pro dan kontra yang menyertainya seolah menghentak kesadaran saya sebagai anak bangsa. Terlepas dari setuju atau tidak setuju adanya mobil esemka, saya melihat adanya momentum kebangkitan nasional dengan munculnya mobil buatan siswa-siswa SMK ini. Momentum tersebut adalah sebuah inisiasi untuk menunjukkan keberadaan kita sebagai bangsa yang mampu menghasilkan sebuah produk, bukan hanya bangsa yang rakus menyantap produk-produk luar negeri saja. Gegap-gempita sambutan kemunculan SMK yang ditandai dengan heboh ­pre order yang mencapai ratusan unit dalam waktu singkat menunjukkan adanya pengakuan dan apresiasi dari warga masyarakat. Lantas di mana pemerintah di tengah euforia mobil esemka ini? Kita tidak melihat keberpihakan pemerintah dalam kasus ini, apakah akan mendukung atau justru akan memberangus nantinya atas nama kepentingan modal yang lebih besar.

Sejak berita heboh mobil Kiat Esemka di berbagai media, publik tidak melihat pemerintah (dalam hal ini presiden) memberikan respons. Nampaknya kehebohan ini biarlah menjadi kehebohan rakyat jelata saja. Mungkin saja pemerintah sudah sibuk dengan urusannya, termasuk partainya masing-masing. Jika demikian apakah pemerintah sudah berlaku secara patut menjalankan tugasnya? Mari kita lihat sejenak konstitusi kita UUD 1945. Tengoklah dan cermati alinea ke-4nya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, …

You see … Konstitusi mengamanatkan bahwa pemerintah harus melakukan tindakan yang memiliki tujuan dengan dimensi sangat besar sebagaimana telah disebutkan oleh konstitusi di atas. Jika kita cermati ternyata pemerintah kita tidak melakukan sesuatu, what should we conclude then? Apa yang bisa kita simpulkan atau kita nilai atas sikap pemerintah tersebut?

Saya membuka interpretasi dan apresiasi dari Anda sekalian para pembaca, namun sejauh yang saya yakini, dengan tidak melakukan apa-apa maka pemerintah kita tidak cukup serius melaksanakan amanat konstitusi. Mobil esemka jika dibandingkan dengan mobil konvensional buatan pabrik tentunya jauh berbeda. Namun perlu diingat bahwa mobil ini adalah karya anak bangsa yang perlu didukung dan didorong untuk menjadi bukti eksistensi penguasaan teknologi. Bukan mustahil hal ini menjadi starting point industri otomotif nasional yang merupakan karya asli anak bangsa. Sudah barang tentu hal ini akan memberikan multipier effect yang sangat besar di bidang teknologi, ekonomi, kebanggaan sebagai bangsa serta sosial.

Jika industri otomotif nasional berkembang maka teknologi pada sektor lain akan turut terpacu sehingga teknologi nasional akan semakin kompetitif. Dampak lain pada bidang ekonomi akan mengundang arus perputaran uang yang besar untuk modal dan penyerapan tenaga kerja. Pembukaan lapangan kerja secara tidak langsung akan menggerakkan ekonomi lokal, regional bahkan mungkin dalam skala nasional. Di luar itu, produksi mobil nasional yang mampu bersaing dengan produk luar akan memompa semangat nasionalisme dan membuktikan bahwa kita bukan bangsa konsumtif serta pecundang. Kita mampu dengan kepala tegak menunjukkan karya asli kita yang dapat menjadi kebanggaan nasional. Oleh karena itu, dari hal yang sederhana tersebut akan memberikan beragam keuntungan bagi bangsa pada masa mendatang.

Namun, kembali kepada pemerintah apakah pikiran semacam itu ada? Apakah kepemimpinan nasional sekarang ini menyadari bahwa setiap upaya dan produk yang dihasilkan anak bangsa akan memiliki dampak yang besar pada kemudian hari?

Kepemimpinan adalah proses manajemen yang berpadu dengan seni interpersonal untuk mencapai sebuah tujuan. Sudah barang tentu kepemimpinan ditandai dengan kerelaan untuk berpikir dan bertindak yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat luas. Kebalikannya, tidak adanya tindakan justru akan mendorong kepada delegitimasi dan kegagalan proses kepemimpinan itu sendiri. Jika pemimpin tidak mau bertindak maka perlu dipertanyakan obsesi besarnya untuk membawa bangsa ini kepada tujuan-tujuan besar sebagaimana yang telah digembar-gemborkan saat kampanye dulu. Bangsa membutuhkan kepemimpinan yang dapat mendorong kinerja dan kreatifitas untuk mencapai hasil yang nyata dan konkret. Hal-hal seperti ini yang dalam jangka panjang akan mendorong terciptanya kemandirian nasional karena kepemilikan keunggulan, baik dalam bidang teknologi, ekonomi, sumber daya maupun nation pride.

Monday, April 26, 2010

TRUK SAMPAH

Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yg benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut. Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya & memaki ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang tersebut. Saya sangat heran dgn sikapnya yg bersahabat. Saya bertanya, "Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!"

Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah". Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya & seringkali mereka membuangnya kepada anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup. Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan.

Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati. Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak.

Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu MENYIKAPINYA ....

U CHOOSE TO BE HAPPY OR GRUMPY .. IT'S JUST A MATTER OF CHOICE !!!

Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.

Selamat menikmati hidup yang diberkati & bebas dari "sampah"

(dari seorang teman di milis)

Friday, April 23, 2010

SAYA adalah SAYA ..

Tadi pagi ketika sedang business breakfast dengan seorang entrepreneur wanita yang berhasil, iseng-iseng saya bertanya: "Suami kamu bertanggung jawab ga atas hidup kamu?".

Well, jawaban yang diberikan sangat jarang saya dengar.

"Suami saya orangnya bertanggung jawab. Sepanjang yang saya ketahui, dia setia, tidak pernah selingkuh, orangnya rajin dan ulet, dia cermat dalam setiap pengeluaran keuangan, dia komit pada pekerjaannya, dan dia sayang keluarga. Tetapi dia tidak bertanggung jawab atas hidup saya!"

"Lohhh, maksudnya gimana?" Saya jadi semakin tertarik mendengarnya.

"Maksud saya, suami saya tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kegembiraan saya! Ketika kami bertengkar karena berbeda persepsi; ketika dia nyuekin saya karena lelah sehabis pulang dari kantor; ketika dia melupakan ulang tahun perkawinan kami karena lagi bertugas ke luar kota, saya sedih. Saya sangat sedih."

Kemudian saya membaca sebuah artikel bahwa "SAYA yang seharusnya bertanggung jawab atas hidup saya, atas kebahagiaan, dan atas kegembiraan saya, BUKAN orang lain! Setiap manusia punya TEATER di pikirannya, dan karena TEATER tersebut adalah milik saya, kenapa saya tidak memutar film, musik yang berMANFAAT untuk menciptakan kebahagiaan dan kegembiraan saya?!"

"Mungkin suami saya belum mempunyai PETA (MAP) tentang sesuatu yang saya inginkan" --> Saya bisa memberitahunya sehingga dia paham ketimbang kami harus bertengkar.

"Mungkin suami saya lelah dan lagi tidak fokus karena pekerjaannya yang sangat menyita waktu dan tenaga" --> Saya bisa mengingatkan dia sehingga dia tidak lupa lagi ketimbang kami harus diam-diaman selama 1 minggu. WOWWW... saya terkesima dan saya lalu minta ijinnya untuk berbagi pengalaman dan diskusi BERHARGA ini kepada rekan-rekan.

Entah SEKARANG maupun NANTI, bahwa Anda semua yang berTANGGUNG JAWAB atas PIKIRAN dan PERASAAN Anda. Jangan berharap suami, pasangan, rekan kerja, teman, orang lain bisa mengerti Anda dan membuat Anda bahagia, senang, atau bergembira. Mungkin bisa, sekali-sekali, tetapi most of the time, Anda sendirilah yang menentukan dan mendesign pikiran dan perasaan Anda!

SUKSES selalu untuk Anda dan selamat melanjutkan kembali aktivitas Anda!

(dari seorang teman di sebuah milis)

Kadang kita malah berlaku sebaliknya, sangat memiliki ketergantungan kepada orang lain sehingga ketika gagal dengan mudahnya kita akan menyalahkan atau mengkambinghitamkan orang lain.

Mari kita belajar dan memulai berkata inilah SAYA .. dan SAYA bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan.

Semoga hari kita menyenangkan!


Monday, April 13, 2009

Setelah pesta usai ..

Pemilu baru saja kelar, orang bilang pesta demokrasi .. saya protes, demokrasi nggak ada pestanya. Cuma akal-akalan untuk membenarkan pemilu sebagai ajang jor-joran yang menyenangkan buat orang-orang tapi cuma lima tahun sekali!
Ada yang bilang pemilu = pembikin pilu .. owwwalaaah ... bener juga.
Gimana enggak pilu wong saben hari dibuai dengan janji-janji yang nggak jelas bakal terealisasi atau tidak (kebanyakan sih tidak he ..)
Kembali ke pesta, ada yang jadi host, ada hidangan dan asyik-asyiknya .. tapi setelah pesta usai, mau ngapain? Siapa yang bersihin sisa-sisa makanan dan kotoran, wong host-nya saja nggak jelas. Siapa yang mau mbayari tagihan-tagihan demokrasi kita ... efek 5 tahun ke depan siapa yang bisa njamin? Apakah bapak-bapak dan ibu-ibu yang keras bersuara di atas panggung itu? Atau mbak-mbak yang goyang-goyang kayak uler itu?
Jangan percaya kalau pemilu = pesta demokrasi! Dalam literatur pemilu dan ilmu politik, nggak bakalan ada tuh terminologi begituan ...
Kalau sudah begini repot, pesta bubar ... siapa yang mau bebenah?
Bangsa yang aneh ...     

Sunday, February 1, 2009

Jangan percaya IKLAN POLITIK

Selalu saja ada yang menarik dari fenomena politik di keseharian kita. Cobalah cermati di TV, radio, atau di pinggir-pinggir jalan. Kalau tidak bicara tentang pilihlah saya .. maka itu akan berupa keberhasilan partai ini atau itu, menjaga dan menggundang konstituen untuk tetap loyal dan memilih partai itu.
Hasilnya ...?
Namanya iklan ya mesti yang bagus-bagus doang ...
Pernahkah kita berpikir ..

Kenapa kok iklannya baru akhir-akhir ini saja?
Mengapa kok iklan itu tidak muncul pas rakyat sedang sekarat karena nggak ada minyak tanah, beras atau berdesak-desakan minta sumbangan?
Mengapa juga mesti main klaim karena partai ini lah yang sudah ikut menyukseskan program ini-itu, bukan pada saat salah satu oknum (kata yang halus sebagai pengganti TERSANGKA!) fungsionaris partai tertangkap basah korupsi, ngamar di hotel atau mbolos acara sidang?

Kata Pak Eko, salah satu pengelola sekolah privat yang cukup favorit di Ungaran, sekolahnya tidak mau pasang iklan atau bikin brosur untuk dibagi-bagikan dan ditawarkan ke masyarakat. Bagi dia, itu (segala bentuk brosur dan alat sosialisasi) tidak lebih dari sekedar mengemis dan minta belas kasihan dengan berkedok pencitraan yang apus-apusan (wah, waktu pak Eko cerita ini sambil bersemangat ria loh..) Lha wong desain bisa dipesen, kalimat bisa dikarang dan prestasi bisa di-klaim ... gampang tho? Dan yang jelas, nggak mungkin di brosur itu cerita yang jelek-jelek. Kalau bisa ya yang bagus-bagus ... kalo perlu dikarang-karang dikit kan ga papa tho? hehehe

Jadi sudah tahu kan? 
Cermati iklan politik dan jangan langsung percaya: bukankah kita punya otak buat mikir? huehuehue  

Politik itu BERPIKIR, BERBICARA dan BERBUAT ya tho?

Sore tadi ada diskusi dengan teman bule dari Belanda yang menanyakan tentang politik. Dia sepertinya sangat muak dan pengin muntah kalo mendengar atau mendiskusikan hal-hal yang berbau politik (he .. hiperbolik banget 'kali! maaf).
Bagi dia, politik tidak lebih dengan omong kosong, main kuasa, suap dan korupsi, atau memperkaya dan menguntungkan pribadi bersama golongannya. (asumsi saya ini yang terjadi di Belanda sono .. kalo sama dengan yang di sini, itu berarti globalisasi benar-benar nyata hehehe ..).
Akhirnya saya yang banyak mendengar dia berceloteh tentang bagaimana brengseknya politik, birokrasi, urusan di kantor pemerintah dan pelayanan publik. Bagaimana politik diterjemahkan oleh para aktor (pejabat publik, pelayan publik, partai politik, wakil rakyat bahkan caleg yang rame-rame pasang foto pribadi di tempat-tempat umum).
Hmm .. dia berkesimpulan bahwa politik itu BURUK. 
Waduh ..

Sebetulnya sederhana saja kan, kalau sudah tahu buruk ya mari-mari kita ciptakan yang baik hehehe .. Kayak semacam Romo Mangun itu lho, yang berpolitik berdasarkan hati nurani. Kebesaran beliau karena BERPIKIR, BERBICARA dan BERBUAT! 
Mungkin banyak di antara kita yang hanya berpikir, mendalami dan melihat fenomena politik secara filsafati atau ideologis yang pada akhirnya (kadang) kita terjebak pada bilik-bilik ideologi yang memasung pikiran dan kreatifitas kita. Walhasil pembicaraan kita menjadi sangat mendakik-ndakik (bhs. Jawa: terlalu berangan-agan) alias tidak membumi. Kurang mencermati realitas, potensi dan kondisi sosial masyarakat.
Padahal jika kita tambah lagi dengan PERBUATAN-PERBUATAN yang seide dengan pemikiran dan pembicaraan kita, pasti politik bakal menjadi sesuatu yang mulia .. halah!
Ya itu contonya Romo Mangun itu ... karya-karyanya jelas menusuk dan menggugah sanubari orang yang masih waras. Walaupun latar belakangnya rohaniwan Katolik, arsitek, penulis dan guru, dengan multi talentanya ini Mas Mangun telah membuktikan kepada kita bahwa politik dengan hati nurani akan lebih banyak memiliki keberpihakan dengan golongan mayoritas, rakyat banyak yang kadang dipinggirkan dalam proses politik.
Intinya .. jika kita tahu ada politik yang busuk, sebagai orang yang dikaruniai akal tentunya kita bisa membuatnya menjadi baik. Dan itu pilihan kita .. akan kita maknai apa politik yang kita hadapi saban hari hihihi ...

Tetap semangat dalam berpolitik!
  

Tuesday, January 27, 2009

"Malaikat-malaikat" di pinggir jalan

Hmm ada yang aneh memasuki tahun baru 2009.
Di pinggir-pinggir jalan mulai kita mulai para "malaikat"...
Orang-orang yang menggumbar mantra-mantra keramat 
Menawarkan janji-janji surga akan kemapanan, kesejahteraan dan kebaikan bersama.

... Yakinlah .. pilihlah .. centrang lah saya ...
.. Karena saya bisa membikin sampeyan semua sejahtera ..
.. Saya orangnya bersih dan jujur lho ... juga peduli ..
.. Pokoknya ingat brengosnya .. centrang ya ..
... Jangan lupa .. gelar saya Prof. Dr. something-something ... pilih saya ya, please ...
.. Saya orang desa lho, tepatnya Putra Daerah .. anti korupsi dan suka beramal .. 
... Pilih saya .. dan insya Alloh hidup kita sejahtera ...
... Saya anak Pak Anu pahlawan ini-itu .. akan saya teruskan perjuangan Bapak saya, coblos saya yaaaa ...
.. Kalau saya pecinta hati nurani, anti korupsi, anarki dan mbagusi, pilih saya saja ya ..
... Konco dewe, putra daerah dan tidak suka macem-macem .. jangan lupa ...
.. Pilih mas ganteng dan mbak ayu ya .. dijamin jossss ...
(whe lha ini iklan apa ya?)

Melihat ocehan mereka dengan sederet pose berbagai posisi rasanya saya jadi tambah pusing. Sejak kapan acara milih wakil yang mau jungkir-balik buat mikirin perut dan masa depan ribuan bahkan jutaan orang jadi iklan-iklan murahan kayak begini. Cuma bermodal mantra, tampang, poster ukuran aduhai plus manis-manis janji dan muka (atau di manis-manisin ya?) sudah berani mengklaim harapan setinggi gunung.
Apakah dari display-display di pinggir jalan itu kita jadi tahu bahwa mereka-mereka bakal jadi wakil kita yang tepat .. tidak akan ngapusi dan ngakali, bahkan rela nggak gajian atau terima uang apapun sebelum kita, rakyat yang mereka wakili, lebih dulu sejahtera.
Bagaimana kita tahu kalau mereka orang yang tepat?
Apa dasar kita milih mereka? 
Tampang yang cakep? Kaya? Baik hati? Dermawan?
Lha itu semua lak punyanya malaikat betulan (he he he ..)
Repot lagi kalo latar belakang mereka cuma penganggur, pensiunan, atau profesi yang tidak jelas juntrungnya. Mau dikemanaken negara kita tercinta ini?
Apa jaminan mereka tidak akan menghianati kita di tengah jalan?


O alah malaikat-malaikat di pinggir jalan,
mbok sesekali datanglah ke gubuk kami, 
lihatlah tempat kami menyimpan beras,
tengoklah tempat sekolah anak-anak kami,
antrilah di puskesmas .. rumah sakit ..
atau sesekali uyel-uyelan menyapa kami di bis, kereta api atau kapal kelas ekonomi ..
perhatikan rumah dan lingkungan kami di kala hujan ...
kunjungilah warung-warung di sekitar rumah kami dan bukalah buku-buku bon-nya ..
duduklah barang satu jam di pojok pasar dan terminal ...
atau perhatikanlah pak polisi lalu lintas di sepanjang hari,
bercandalah dengan guru-guru wiyata bakti, 
pegawai honorer di kantor-kantor,
para pengemis, pemulung dan gelandangan yang tidur di pinggir-pinggir jalan ..
Kalau sampeyan sudah melakukan itu semua ...
ndak perlu poster-posteran .. partai, wajah atau nama sampeyan bakal saya centrang blog pake spidol besar .. sebagai bukti kalau sampeyan benar-benar malaikat buat kami ...

Ini asliiii bukan ngapusi!
       

Wednesday, August 6, 2008

Mental Asia

Berkesempatan menikmati kehidupan di luar negeri dan berbaur dengan banyak suku bangsa; Amerika, Eropa, Asia, Afrika dan Australia ... komplit plit!
Dulu sih hanya dengar dari teman-teman kalo perilaku kita bakalan mendadak-dangdut berubah drastis karena hidup di negara yang penuh aturan, tatanan, civilized, apalah itu ... Yang jelas, bener kata pepatah di mana langit dipijak di situ bumi dijujung. Di mana kita ada ya kita harus tunduk-taat pada tatanan yang berlaku, salah-salah bisa urusan tambah panjang huehuehuehue ...
Ada teman pernah bercerita pada saya sepulang 7 tahun tinggal di Jepang maka harus pulang ke Indonesia yang sudah tentu sepesawat dengan bolo-bolo orang Indonesia pula. Saat di Narita, ngantri dan ngikutin proses ... semua sangat teratur, rapi-jali ... eh giliran sampai Ngurah Rai, ketahuan aslinya yang suka pada nyerobot antrian dan bergerombol di depan counter desk ... o lalala Indonesiaku. Kok gak ngaruh ya udah pernah ke mana-mana penjuru dunia, tetep saja mentalnya mental nyrobotan.
Di tempat saya sekarang nun jauh di midwest Amerika, lagi-lagi saya harus menemui hal serupa, tapi untungnya bukan oleh teman-teman saya sendiri .. the Indonesians, tapi katakanlah oleh teman-teman yang dari China dan India.
Ada juga bisik-bisik waktu di Denver International Airport bahwa kadang kelakuan front office terhadap mereka yang berkulit berwarna rada nggak sopan awal-awalnya. Yah kaku banget gitu ... tapi mungkin kalo ud familiar ya baik-baik aja .. itu karena denger-denger orang Mexico atau Cina yang sering rese (minta) nyerobot antrian dengan berjuta alasan. (Saat saya di DIA juga melihat dengan mata kepala saya sendiri seorang ibu Hispanik dengan bolo kurowonya memohon nyerobot antrian karena bla bla bla .... kok kaya ga ngerti aturan check-in dan boarding ya? Alasannya sepele lagi ... saya nelpon seseorang untuk njemput tapi dia nggak ngangkat telponnya, jadinya saya terlambat gini ... huuuhh. Padahal setelah check-in masih harus ngantri di TSA buat dideteksi macem-macem yang minimal makan waktu sejam ngantri. Makanya airline mewanti-wanti kalo check-in 45 menit sebelum pesawat berangkat, bakal di suruh mundurin tuh karena bakalan mempersulit penumpang lain).
Nha kalo cerita teman-teman saya yang dari RRC itu terjadi saat Bill Clinton dan Barrack Obama datang ke universitas. Dua jam sebelum acara dimulai sudah diminta mulai ngantri karena ada pemeriksaan dari TSA (Transportation Security Administration) ma Laramie Police, jadi kita harus melewati pintu detektor dan mengeluarkan semua barang yang berbau logam serta mengaktifkan alat elektronik yang kita bawa. Kebanyangkan kalo 1 orang butuh 30 detik, berapa waktu yang dibutuhkan untuk sekitar 1000 atau 7000 orang?
Pas kita lagi ngantri ... sambil ngobrol .. eh datang teman-teman dari RRC dengan enaknya melewati kita (yang jaraknya sekitar 500 m dari pintu masuk), antrian panjang pula .... eh sampai di dekat pintu mereka berhaha hihi njuk mak bledeng masuk ke antrian yang tinggal sak nyukan ke pintu pemeriksaan. Owwwalaaah ...
Saya nggak bisa mbayangin komentar bule yang ada di belakang mereka, yang jelas mereka pasti nggondhuk banget ... dasar!
Saat kita ketemu mereka dan komplain, eh kamu kok nyerobot antrian? Dengan cuek tanpa dosa mereka njawab .. emang napa? Hahhhh? Capeee deh ...
Satu lagi cerita teman saya dari India yang sama-sama hobby badminton. Saat summer di mana kehidupan kampus "melambat" karena tidak terlalu banyak aktifitas, maka kegiatan di Gym termasuk badminton juga dibatasi. Kalau biasanya kita main badminton setiap Jumat dari jam 6-10 malam maka saat summer hanya boleh dari jam 6-8 malam saja.
Dan sudah jadi kesepakatan tidak tertulis kita bahwa jam 8.00 tit kita stop dan bantu-bantu mengemasi net dan tiang-tiangnya.
Minggu kemarin saya main double dengan teman dari India berhadapan dengan double dari Cina. Saat jam menunjukkan 7.55 saya sudah mau mundur meski kedudukan 13-11 (sementara kami unggul setelah set 1 kalah 21-17), tapi mereka bilang ayolah Ghulam 5 menit lagi ..
Saat jam menunjuk 8.00 kedudukan 17-15 (kami masih unggul lho ..), pasangan Cina lawan main kami mengundurkan diri .... saya juga ikutan, tapi si temen yang India ini ngotot untuk meneruskan pertandingan dengan alasan karena nggak ada yang jaga ... ayolah!
Jujur saja, nggak memandang dia dari India, PhD student atau apalah ... saya langsung muak dengan sikapnya dan terlintas kebanyakan mental saudara-saudara saya yang sering mengatakan hal yang sama ... mumpung ga ada polisi, ga ada yang ngawasi ... ga ada atasan ... sebagai legitimasi untuk melakukan penyimpangan.
Ternyata nggak cuma Indonesia, yang lain juga seperti itu .. makanya saya berani mengatakan mental Asia. Benar atau tidak wallahu'alam ... saya yakin masih banyak yang lurus-lurus, tapi kalo yang melenceng begini didiamkan dan ditoleransi, sampai kapan pun kita tidak akan bisa menyaingi negara-negara maju yang sangat komit dengan aturan dan hukum.
Anda setuju?


Thursday, July 31, 2008

BILL part 2


Entah mengapa saya kepingin lagi menulis tentang Bill yang sudah pernah saya tulis bulan Maret 2008 lalu. Yang jelas saya menemukan sesuatu yang luar biasa dari orang ini. Semangat, kebaikan, kegembiraan, kesetaraan ... nilai-nilai yang membuat saya kagum bahwa ada saja mahluk Tuhan yang membanggakan. Yah, padahal dia cuma seorang sopir yang dibayar sekitar 7 USD per jam untuk antar jemput mahasiswa ke seantero kampus. Ukuran pekerjaan untuk low class atau casual buat sekedar part time.
Minggu kemarin kita ngumpul lagi sama Bill di acara makan sate bersama di kolega Bill, sopir bus kampus juga bernama Ed Clark. Ngomongin soal sate kambing, bumbu kacang, kecap manis, sambel, dan mie goreng ... semua bikin teman-teman kami Amerika geleng-geleng kepala .. kok ada makanan lezatnya kayak gini. Belum lagi asinan Bogor made in Agung PKS hehehe ... lebih lezat dari salad .. sampe salad-nya dibungkusin buat pulang.
Ternyata di balik kecarut-marutan kita masih ada pusaka warisan leluhur berupa pusaka kuliner (pinjam istilah Bondan Winarno) yang bisa membanggakan. Walaupun dioleh secara ala kadarnya oleh tangan-tangan anak kost di bawah arahan Cak Rahmat van Jember, ternyata sate kambing yang kita ikhtiarkan rame-rame sangat lezat dan ludessss tanpa sisa. Alhamdulillah ... nggak sia-sia ini tangan sampe pegel misahin daging paha kambing dari tulangnya yang uawwlot.
Kembali ke Bill, ternyata dia juga maestro gitar yang tiada banding. Semua lagu (Amerika tentunya) dibawakan dengan penuh penghayatan, palagi giliran lagu roman atau country, wah jangan tanya ... saking menghayatinya kayak kesurupan hehehe ....
Hebatnya, seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa Bill hidup pada kondisi yang kurang beruntung, tapi tetep saja dia riang gembira. Saat menjemput kami dengan segala uborampenya, dia cerita tentang mobil yang kami tumpangi yang dijulukinya sebagai city car dan a hundred feets car.   Disebut city car karena mobil sedan tahun 80an nggak bakalan berani dipake keluar kota mengingat sudah sangat uzurrr. Katanya sih Bill beli cuma 100 USD dari kakak perempuannya yang lagi butuh duit. Dan dia sangat sayang dengan mobil itu ... lucu dan antik. SAtu lagi Bill punya mobil Ford limited edition yang diluncurkan menyambut ulang tahun ke-70 Ford ... masih bagus katanya dan Bill sayang banget.
Lha disebut a hundred feets car karena mobil yang kami tumpangi itu sangat bagus dilihat dari jarak 100 kaki, lebih dari itu ya jangan tanya (jeleknya) hehehe ..... Owwalaah Bill kok ada-ada saja ...
Oh ya, beberapa minggu sebelumnya Bill dapat job baru jadi supervisor bus kampus, seneng juga mendengarnya, itu artinya Bill bakalan bisa punya gaji lebih hehehe ... tapi ada sedihnya juga nggak bakalan ada yang mengiringi kami dengan candaan dan nyanyian sepulang dari kuliah yang penat.
Oh ya, saya sangat surprise juga saat kami sampai di kediaman Ed, Bill langsung ceprat-cepret pake kamera manualnya .. semangat sekali. Saat saya tanya, dia jawab buat kenang-kenangan. Lha? kan ga ad kamu di foto ntar ... Gak papa.
Whe lha ...
Eh ujung-ujungnya dia minta difotoin bareng juga hehehe ... orang yang aneh.
Sebelum Bill pamit karena harus ngurusi bis untuk antar-jemput difable, dia sempat memberi kesan bahwa bergaul dengan kami semua adalah hal yang sangat menyenangkan. Apalagi dia tahu bahwa pada dasarnya kita semua menyembah Tuhan yang Satu maka tidak ada alasan untuk bermusuhan dan saling menyakiti satu sama lain. Mari kita jadikan dunia ini lebih baik dengan persahabatan yang telah kita jalin. (saya cuma mbatin: andai saja pemerintahmu semulia kamu Bill, saya sangat yakin dunia ini akan sangat jauh lebih baik, hehehe ... peace!).
Beberapa hari kemudian hasil jepretan kamera saya kirimkan ke semua orang, ada balasan yang sangat mengharukan dari seorang Bill .. 

Thank you very much for the pictures Ghulam, they were excellent! --- 
Your Friend, Bill Montgomery (william s. montgomery

Ah Bill, kamu memang sangat luar biasa dan menginspirasi!!



      
 

Tuesday, July 29, 2008

Toni Boster

He .. Toni Boster.
Yang jelas dia bukan musuh atau teman saya.
Karena Toni Boster itu sebuah akronim yang kesemuanya diambil dari bahasa Jawa. Kata itu memiliki bentuk asal waTON munI ndoBOSe banTER yang kurang lebih dalam bahasa Indonesia artinya asal bicara pinter bohongnya hehehe ...
Kadang pengin ketawa juga kalo ada temen atau orang yang berbicara dengan saya yang masuk kategori ini. Kalau orangnya sudah saya kenal biasanya kalau sudah mulai memasuki sindrom Toni Boster langsung diam-diam saya tinggal pergi hehehe ... Bukannya nggak hormat atau apa, cuma nggak pengin ketambahan masalah mendengar sesuatu yang nggak ada gunanya!
Saya yakin di antara Anda semua punya satu dua orang teman yang masuk kategori ini ... biasanya dalam sebuah komunitas pasti ada kok yang model beginian. Kalau urusan becandaan sih bisa bikin rame, tapi begitu sampe urusan serius ... bisa-bisa malah meluluhlantakkan semuanya. Lha iya wong kadang golongan ini berani ngotot ngomong doang kok ... giliran eksekusi, ngerjain tugas atau bersusah payah bakal cep-klakep alias diam membisu.
Type-type orang seperti ini, ketika kita belum kenal sekalipun sangat mudah untuk diketahui. Pertama ya dari gaya ngomongnya yang gue banget dan cenderung menempatkan dirinya di atas mitra audiens-nya. Ini lho .. saya, wah kalo nggak ada saya, ceritanya bakal lain lho ... Selama pembicaraan juga lebih banyak bicara mengenai ke-saya-annya ketimbang berbagi ruang bicara dengan teman yang lain.
Kedua, biasanya ketika dikonfrontasi dengan fakta atau ditanya hal-hal yang sifatnya praktis, beliau ini bakal celingukan .. karena ya nggak tahu soal begituan!
Gaya-gaya seperti ini biasanya menghinggapi teman-teman kita yang berbakat jadi pejabat hehehe .. baik tingkat pusat, daerah maupun kelurahan. Oh ya, satu lagi bahwa beliau ini sangat menyukai hal-hal yang sifatnya gemerlapan ceremonial .. tapi giliran untuk ikutan kerja bareng biasanya langsung ngilang.
Jujur saja, jaman bahuela dulu ketika sering main ke Jakarta untuk urusan dinas organisasi hihihi .. banyak banget ketemu orang macam ginian, apalagi kalau pas kegiatan besar, melibatkan banyak orang, instansi .. selalu saja bertemu orang-orang macam beginian yang sok tapi nggak pernah bisa menyelesaikan sebuah masalah sekali pun. Ampppyuuuun DJ, hehehe ...
Yah, paling tidak golongan Toni Boster ini mengingatkan kita untuk tidak asal bicara dan menilai sesuatu secara buru-buru.
Bangsa kita butuh banyak "musuh" Toni Boster, yang tidak hanya pandai bicara namun juga mampu membuktikannya dalam perbuatan.
"Action speak louder than words.", kata temen saya Toni yang tidak pake Boster hehehe ..

Friday, July 18, 2008

Quo Vadis Indonesia?

Judul di atas mungkin sudah lazim kita jumpai, harfiahnya berarti kurang lebih mau ke mana Indonesia? Mau dibawa ke mana?
Pertanyaan ini kembali menyeruak seiring dengan dimulainya kampanye dan upaya cari muka para petinggi partai yang mau nyalon legislatif maupun eksekutif (baca: mau jadi Presiden RI 2009-2014). Bayangkan, tidak ada satu pun muka baru .. semuanya muka lama yang come back karena sempat tersingkir dari kancah politik, sok jadi pahlawan dengan mengkritik habis-habisan pemerintahan sekarang yang katanya kebanyakan tebar pesona dan nggak becus bekerja (apalagi ada acara naik BBM segala, kesempatan nih bikin move, hehehe ..).
Tapi jika kita mau berpikir lebih jauh lagi ... janganlah terperdaya dengan pesona para pahlawan kesiangan ini, yang sok idealis, sok memperjuangkan rakyat, sok kritis dan berpihak kepada rakyat. Berani sumpah ... kalo mereka nantinya terpilih ya nggak akan beda dengan sekarang yang sedang berkuasa. Sok jaim dan jaga jarak dengan rakyat! Buktinya, banyak kebijakan yang sama sekali nggak pro-rakyat, kenaikan BBM misalnya, belum urusan pengadilan yang masih jauh dari kata-kata ADIL (tengoklah sebentar "Pak Guru" dan "Bu Guru" yang statusnya terdakwa kasus suap 6 M yang ditahan di 2 tempat berbeda tapi masih bisa telpon-telponan buat bersekongkol bikin keterangan palsu, udah pertama ngaku jual permata, pinjaman untuk teman, eh sekarang bilang buat bengkel, ammpyuuunn DJ!), dan masih banyak lagi.
Saya bukan pro pemerintah atau pendukung para vokalis yang di luar pemerintahan, nggak .. saya nggak punya kepentingan sama sekali dengan mereka. SBY-JK jika baik ya saya dukung, misalnya upaya reformasi birokrasi (soalnya katanya dulu kalo masuk PNS harus bayar 8 digit, alhamdulillah saya cuma keluar duit 5 digit buat materai, SKCK dan Keterangan Sehat ... plus ujian dan wawancara yang sangat transparan tentunya!), lainnya apa ya? Kayaknya banyakan gak beresnya deh hehehe ... BLT? wah jelas-jelas salah kaprah tuh ... Yah sebagai warga negara yang baik saya juga mau berusaha baik dengan pemerintah .. kalo bener ya didukung kalo salah ya diingatkan atau dikata-katain hehehe ....
Yang jelas, melihat para tokoh yang sekarang lagi ada di panggung politik, saya jadi ngelus dada saya sendiri ... mau dibawa ke mana Indonesia kita. Udah kelihatan pada bermasalah gitu kok ya nggak ngilo atau bercermin diri .. masih ngaku-ngaku akan memperjuangkan amanat penderitaan rakyat lagi ... duh!
Gimana mereka akan memperjuangkan kalau selama ini hidup bergelimang fasilitas; rumah mewah, kendaraan terbaru, HP special edition, seabrek pengawal dan penjilat (kayak jaman Mataram aja hehehe ...), bukannya hidup di kampung, naik bus umum dan menyelami kehidupan masyarakat sendiri ... gak pake pengawal, ajudan atau sekretaris pribadi .. bahkan para penjilat! Bagaimana mereka bisa dipercaya akan mengurus kepentingan rakyat jika pekerjaan dan penghasilan tetap saja tidak bisa dijelaskan kepada kita semua. Dari mana mereka mendapat uang untuk menghidupi keluarganya? Selama ini yang katanya bagus-caktik-kaya ya ujung-ujungnya tetep jadi "mesin keruk" uang rakyat, jadi anggota dewan kok nuntut banyak fasilitas ... mestinya tahu resiko tho bukannya malah kesempatan ngakali duit rakyat. Wakil kok tega ngakalin yang diwakilin .. owwalaaahhh ....
Lantas apa yang bisa kita harapkan dari oportunis semacam mereka ... ngurus partai saja masih acakadut ... mbok coba tuh undang akuntan publik yang independen buat mengaudit duit partai, berani?
Atau buktikan hasil kinerja mereka secara kuantitatif dan kualitatif ... bikin riset tentang kinerja partai dan wakil mereka di legislatif ... apa saja inisiatif dan kebijakan yang mereka hasilkan, bagaimana peran mereka mengawasi dan mengontrol pemerintah, bukan cuma vocal karena belum kecipratan APBD saja ...
Belum lagi secara moral ... ngakunya beragama, suka kampanye berbusa-busa dengan berbagai dalil .. tapi kelakuan masih minus juga; ngakali uang rakyat, bohong (katanya iya padahal tidak atau kebalikannya), bikin skandal dengan WIL (memalukan partai, keluarga dan status sebagai "anggota dewan yang terhormat" namun bejat!), kong-kalikong bikin aturan yang menambah pundi-pundi pribadi dan partai ... tukar-guling lah, bahasan UU, kunjungan kerja ... mana sih bukti hasil kerjanya? Rakyat perlu tahu, sampeyan semua sebagai wakil 5 tahun ini kerjanya apa? Kok nggak ada laporan dan pertanggungjawaban sama kami-kami yang sudah memilih? 
Waduh .. demokrasi kok jadi rakyat yang rugi ... 
Jadi ..
.. jangan percaya kalau mereka datang lagi,
bilang akan bikin sejahtera,
janji akan bikin ini dan itu,
sekolah gratis,
kesehatan gratis,
mbelgedes semua itu .. lagu lama yang diputer lagi.
Ingat kan lima tahun kemarin juga gitu ... lha sekarang?

Gawat kalo di Indonesia demokrasi masih model sales amatir ... manis di muka, pahit di belakang, janjinya saja setinggi langit ... realitanya sangat pahit!
Jadi, mau di bawa ke mana Indonesia kita ..
Mari kita renungkan lagi ... supaya kita tidak salah pilih seperti tahun 2004 lalu ..
Ingat, suara kita nggak bisa ditukar dengan 10 ribu, 50 ribu atau 100 ribu, beras, kaos maupun sembako ... karena suara kita berharga milyaran kali dari semua itu, bahkan mungkin tak ternilai ... jadi jangan mau ditukar dengan hal yang remeh temeh seperti itu.
Kita, rakyat ... pemegang kedaulatan dalam arti sesungguhnya!
Jangan lupa ... pilih calon yang dapat dipercaya .. ya omongnya ya kelakuannya ...
Yang lebih penting, mau diajak susah seperti kita .. naik bus umum saben hari daripada ngantor pake mobil dinas, mau nerima gaji sama dengan UMR kita, dan mau setiap hari menerima kita dengan segala keluh kesahnya ketimbang kunjungan kerja, rapat rahasia, konsolidasi partai dan sejenisnya.
Kuwalat mereka yang berani ngakali rakyat! Yaqin!             

Thursday, July 10, 2008

Etika dan komitmen

Bagaimana sih menilai seseorang memiliki etika dan komitmen terhadap suatu hal?
Pertanyaan ini mulai semalam kembali mengganggu benak saya .. etika .. opo seeh dasare? Apa yang membuat kita dikatakan "memiliki etika" dan bisa "memegang komitmen"? Bukankah semuanya abstrak, bukan sesuatu yang "hitam di atas putih", bisa ditafsir dan mulur-mungkretkan oleh logika, akal dan analogi seseorang? Kalau hanya didasarkan kepada "publik", siapa? yang mana? di mana?
Di Amerika sini, kalo sampeyan tidak antri bakal disemprot orang lain dan dianggap orang yang tidak beretika dan berkomitmen atas kepentingan publik, sementara di Indonesia "nyerobot antrian" atau "lewat jalan belakang" bukanlah sesuatu yang melanggar etika (kalau pun melanggar masyarakat pasti sudah mahfum .. oo pake seragam, bawa pistol, parfum-nya wangi, wajahnya angker dan serem .. atau oo pejabat ... maaf ya ..) Pertanyaannya kemudian, di mana etika itu ada? Sangat sulit kemudian kalau jawabnya adalah di benak kita masing-masing ... dan lebih cilaka lagi tidak ada unsur paksaan dan hukuman untuk menegakkan apa itu etika. Karena hasilnya akan cuek beibeh ketika etika bertemu dengan "nafsu kebinatangan" kita yang hanya berpikir bahwa saya harus mendapatkan keuntungan, saya .. SAYA .. dan perse#$n dengan orang lain.
Apalah artinya etika ..
Apalah artinya komitmen ..
Jika kita masih saja "mempertuhankan kebinatangan" kita ...
Lebih banyak bicara daripada mendengar ..
Lebih banyak mendebat daripada memahami ..
Lebih banyak meminta daripada memberi ..
Lebih banyak menuntut daripada mengerti ..
...
Bunga kuncup di tepi kali,
Mekar merekah keluar duri,
Karena hidup hanya sekali,
Pandai-pandailah membawa diri.
Pemilu di depan mata,
Kita khawatir banyak golputnya,
Hatiku bingung tiada terkira,
Kamu kikir kok banyak nuntutnya.
Lampu redup di Simpang Lima,
Harus diganti biarlah terang,
Jikalau hidup mengabaikan etika,
Tinggallah tunggu pembalasan orang.
Pantun ini pantun mainan,
Tiada sengaja tercetus spontan,
Jikalau ada kata kurang berkenan,
Mohonlah maaf serta permakluman.
Cendrawasih burung Irian,
Terima kasih cukup sekian.
Bukit duri bukit stupa,
Undur diri dan sampai jumpa.
huahuahua ...

Tuesday, July 8, 2008

Ulang tahun pernikahan

ternyata bojoku yo lali..
Happy 3rd wedding aniversary, Hyang..
Jesika

Weleh, bukannya aku lali yo Njrot ... wong di sini masih tanggal 7 Juli 2008 je hehehe ...
Hari ini di Indonesia sudah tanggal 8 Juli 2008 yang artinya sudah 3 tahun saya berumah tangga dengan si Njrot sayang Yesika Maya Ocktarani ... dan bukannya saya lupa atau pura-pura lupa soalnya perbedaan 13 jam itu juga kadang bikin bingung kok hehehe ..
Bagi saya, ulang tahun pernikahan belum menjadi sesuatu yang "berharga", nggak tahu mungkin 10, 20 atau 30 tahun lagi. Maksudnya ya biasa saja ... nggak ada yang spesial, yah seperti sat ulang tahun misalnya ... bukannya seneng umurnya nambah tapi justru berpikir ... berarti nikmatnya mulai berkurang, wong sejatinya ulang tahun itu mengurangi jatah je hehehe ...
Tapi ngomong-ngomong soal 3 tahun pernikahan, saya beruntung dan bersyukur dikaruniai seorang istri yang baik, dengan suka, rela dan ikhlas menerima saya dengan segenap kekurangan. Iya, kalo soal kelebihan, hal yang baik-baik itu wajar, beda dengan kekurangan yang butuh adjusment, pengertian, waktu dan juga pengorbanan. Dan istri saya alhamdulillah bisa melakukannya dengan baik. Kami sadar juga bahwa kadang-kadang kita sampai pada perbedaan pendapat yang tajam, apalagi jika menyangkut soal yang sensitif semacam keuangan, keluarga, atau cerita jaman dulu (baca: mantan, baik yang kesrempet atau ketabrak .... hehehe peace lho Njrot!). Hal -hal seperti itu kadang membuat kami menjadi emosi dan sangat kekanak-kanakan, nesu, mutung atau apalah yang justru kontra produktif. Yah, itu memang sempat kami alami, namun seiring dengan bertambahnya umur, kami lama-lama juga berpikir ... apa sih manfaatnya selalu melihat ke belakang dan menjadikan itu sebagai sebuah ganjalan. Di muka bumi manapun sejarah, apa yang pernah terjadi, tidak akan pernah bisa terhapus dan hilang begitu saja (itulah makanya ada pelajaran Sejarah, yang tujuannya selain kita tahun apa saja yang terjadi dan dilakukan oleh para pendahulu kita, kita juga dapat belajar untuk tidak lagi melakukan hal-hal yang sia-sia, jas me rah kata Bung Karno, jangan sekali-kali melupakan sejarah!). Oleh karena itu lebih baik secara bijak kita melihat ke depan dengan mengambil pelajaran berharga dari apa yang telah terjadi dan telah kita lakukan.
Tidak ada yang bisa dan perlu disesali dalam hidup ini, bahkan kata Auguste Rodin, tidak ada yang sia-sia jika kita melihat pengalaman dengan penuh kebijakan .... nah lho! Jadi, selama 3 tahun ini banyak pengalaman yang kita reguk sebagai suami-istri, suka-duka, sedih-tawa, semua justru menguatkan ikatan kita plus tambah keyakinan bahwa apa yang ada di hadapan kita, yang kita miliki sekarang ini adalah hal yang paling baik yang dikaruniakan oleh Sang Pencipta sekalian alam. Inilah modal kita untuk tetap dan terus melangkah mewujudkan hari depan yang lebih baik, penuh dengan suka, cita dan cinta.
Saya sangat percaya bahwa kunci keberhasilan dalam membina hubungan suami-istri adalah adanya keterbukaan komunikasi yang disertai dengan kerelaan untuk berkorban dan berbagi, bukan dengan menuntut atau mendikte pihak lain. Dan untuk semua itu saya beruntung memiliki istri yang mau diajak berbagi dan berkorban. Di balik semua yang kita pandang berat, ternyata banyak hikmah dan karunia yang berlimpah. Saya ingat ketika kami tinggal serumah setelah acara hingar-bingar pernikahan, kami berdua hanya bisa termenung ... what next? Dengan berbagai keterbatasan  (saya yakin Anda sekalian yang baru menikah akan merasakan hal ini ...he), kami yakin bahwa ada sesuatu yang harus kami lakukan. Dan alhamdulillah sedikit demi sedikit kami dapat mulai bangkit dan berusaha untuk hidup secara layak. Rejeki, uang, fasilitas ... semua kan sudah diatur .. tinggal bagaimana kita istiqomah menjemputnya ...
Yang jelas selama 3 tahun ini saya merasakan hal yang penuh semangat, gairah dan harapan sebagai manusia yang utuh dengan adanya pendamping, mitra ... dan membuat hidup menjadi lebih bermakna secara jasmani, rohani, personal dan sosial.
Makasih ya Jes ..  
     
       
 

Saturday, July 5, 2008

Cerita CINTA

Kita nggak bakal tahu apa yang terjadi besok ...
Kalo dihari ini kita berhenti ...

Capek juga seharian kemarin ikutan memperingati the fourth of July alias hari kemerdekaan Amerika Serikat ke 232. (sebenarnya cuma ikutan rame-rame saja ..) Pagi jam 10.00 sudah pada ngumpul di Washington Park, ada konser veteran sampe rock band, berbagai stand yang memberikan sesuatu secara gratis (ice cream, air mineral, cookies, semangka, souvenir, brosur, ballpoint ... buanyak!), liat balap anjing, face painting, voli pantai, berbagai atraksi (pencak silat ... ada lho di sini, gymnastik), balap karung, wes pokoknya sehari isinya hepi-hepi doang ...
Siangnya Jumatan, trus disambung ada dinner di rumah Dr. Seitz, masak rendang, sate ayam dan sapi, makan besarrrr ... Nggak cuma itu, main temak-tembakan pistol air ma si Chloe sampe kemringet dan basah oleh air, ngobrol soal demokrasi di Indonesia sama diakhiri dengan foto bersama.
Eh, baru masuk apartment wes diabani liat fireworks alias kembang api ... full 30 menit jledar-jledur denger kembang api yang bertaburan menghias angkasa ... Jadi tahu tradisi orang Amerika memperingati kemerdekaan; nggak ada tirakatan, upacara, ziarah atau detik-detik proklamasi hehehe ... isinya cuma seneng-seneng doang dari pagi sampai malam. Jadi kangen, semoga 17 Agustusan sudah bisa di rumah.
Larut malam karena belum bisa bobo iseng-iseng buka internet ... youtube, nyari the LOVE yang lama belum bisa saya tonton di internet, dan ... tadaaaa ... sudah ada yang meng-upload-nya .. alhamdulillah ...
Jadilah semalaman plus sepagian saya konsen merampungkan 14 episode LOVE di youtube ...yang sudah saya tulis 2 bulan lalu. Bagus juga ... bahwa bicara cinta tidak semata-mata dua insan muda-mudi yang romantis dan penuh bunga-bunga saja. Cinta adalah universal, bagi siapa saja yang mau terbuka dan berbagi .. atau bahkan mungkin berkorban bagi orang lain, tidak semata-mata memikirkan dirinya sendiri. Dalam hidup ini sebenarnya kita ditempatkan pada sebuah bejana timbangan (halah ... sok Gibran!) yang berisi suka dan duka, memberi dan menerima, sedih dan tawa ... tentunya timbangan yang baik adalah timbangan yang mampu menyeimbangkan keduanya tidak hanya selalu berduka, menerima dan tertawa, namun kadangkala juga harus bersuka, memberi dan bersedih ... dan bagi saya, CINTA-lah yang bisa membuat semua itu bisa mengalir dengan manis ... rasanya akan lain jika semua itu berangkat dari sebuah rasa cinta. Ketika kita berduka, ketika kita harus kehilangan karena memberi, atau ketika kita sedih ... saat CINTA datang, semua seolah tersapu bersih. Cinta kepada suami, istri, anak, orang tua, teman ... dan mengejawantahkannya dalam bentuk tindakan; memberi, berbagi, mengerti dan memahami, akan membuat langkah-langkah kita menjadi lebih ringan dan dunia ini menjadi lebih berwarna. Percayalah ... tiada detik terlewatkan tanpa senyum di bibir kita ...
Nggak percaya? Nih buktinya ...

Tuesday, July 1, 2008

Monday, June 30, 2008

Belajar dari Spanyol ...

Akhirnya The Matador yang keluar jadi jawara Euro 2008 setelah dengan cerdasnya merontokkan lawan-lawannya termasuk Jerman Der Panzer yang harus menelan ludah dikalahkan 1-0 di final. 

Sepanjang Euro 2008 dapat dikatakan Spanyol adalah tim yang sangat tangguh, sebagai juara group dia belum pernah terkalahkan, masuk perempat final membongkar mitos "pesta para runner up" dengan mengalahkan Italia lewat adu penalti, di semifinal dengan cantiknya memperdayai Russia 3-0, dan di final menggulung Jerman 1-0. Praktis belum pernah terkalahkan!

Secara individual, pemain Spanyol memiliki skills yang di atas rata-rata, baik dribbling maupun assist. Meski pemain semacam Puyol dan Fabregas sempat bikin ketir-ketir saat laga Piala Champions yang mainnya klemak-klemek alias lamban banget, tapi di Euro sepertinya mereka menemukan pola permainan yang padu sebagai sebuah tim.

Selain berhasil menepis semua mitos di dalam group, perempat dan semi final, mereka juga berhasil menepis mitos "sial", baik karena seragam yang berwarna kuning, bayang-bayang sejarah maupun karena sebagian besar pemainnya adalah "anak bawang" (bayangin, pelatihnya Louis Aragones sudah gaek memasuki 70 tahun sementara squad Spanyol rata-rata berumur 20 tahun atau kalo dibandingin ya kakek nglatih cicitnya tho?), tapi mereka lagi-lagi berhasil menepis semua mitos itu. Saat adu penalti dengan Italia misalnya Ikker Cassias jauh lebih tidak berpengalaman dibanding Buffon yang sudah cukup berpengalaman dan beberapa hari sebelumnya menggagalkan penalti Adrian Mutu (Rumania), tapi kenyataan berbicara lain, Cassias yang tidak punya beban sukses membendung 2 tendangan pemain Italia.

Dan sudah tentu 44 tahun "terkucil" kan dalam sejarah sepakbola tanpa prestasi apapun menjadikan tim Spanyol sangat termotivasi untuk menang atau paling tidak mampu mengukir sejarah seperti Turki, sang underdog yang bisa lolos ke semifinal.

Dari sini saya melihat bahwa Spanyol memberi inspirasi kita untuk tidak begitu saja percaya dengan mitos, berusaha dengan sungguh-sungguh dan melakukan sesuatu tanpa beban. Terserah orang mau bilang apa sepanjang apa yang saya yakini adalah benar ya teruslah kita lakukan. Kesuksesan kita tidak ditentukan oleh omongan orang, perhitungan keberuntungan, mitos atau sejarah, tapi sukses kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan mulai sejak saat ini.
Bravo Espanola ...                  

Saturday, June 28, 2008

Go Blog ...

Pertama kali saya kenal blog di awal tahun 2008 ada rasa was-was juga ... gimana enggak wong sejak lama saya tidak pernah nulis lagi ... kecuali kepepet tugas kuliah termasuk di dalamnya skripsi dan thesis. Ada rasa malas, awang-awangen ... inferior, jangan-jangan tulisan saya nggak mutu blass hehehe ... Tapi yo wes lah ... itung-itung curhat atau berunek-unek yang semoga ada gunanya bagi yang membaca.

Saya kenal menulis bukan dari sekolah, tapi justru dari ibu saya yang guru .. saya inget saat SD saya suka banget mengarang dan bahkan sering mendapat nilai bagus. Karangannya ya sebatas hal-hal yang normatif, misalnya tentang alam sekitar, liburan, suasana di desa. Soal substansi ibulah yang mengarahkan, lha kalo soal tulisan ini kerjaannya bapak yang sering mencorat-coret buku saya dengan ballpoint merah dengan tulisan yang berbunyi sangat provokatif ... tulisan yang rapi, jangan kaya cakar ayam! Giliran buku itu dipinjam teman saya mereka pada kaget kok ada tulisan seperti itu, ya saya bilang aja .. itu bapakku yang lagi ajar nulis di bukuku, hehehe ... Peace lho Pak ..

Yang jelas, menulis itu butuh input baik dari sekedar ngalamun, refleksi atas berbagai kenyataan hidup atau dengan membaca yang semua itu membuat otak kita "bekerja", mikir, menganalisa ... mengotak-atik dan memunculkan sebuah ide baru. Bisa jadi ide itu merupakan kritik, saran, sanggahan atau alternatif solusi dari sebuah permasalahan.

Semakin lama menekuni menulis di blog, semakin banyak hal yang dapat saya peroleh (teman baru, ide, pengetahuan, bahkan sampe tempat makan di sebuah kota yang ditulis oleh sesama blogger), semua bagi saya merupakan "makanan otak yang sehat". Sudah tentu blog yang isinya cuma iklan atau sekedar narsis tidak akan saya singgahi atau saya pasang sebagai link. Memang sih, dari jutaan blog di dunia maya ini tidak semuanya baik ... selain dua hal di atas, kadang blog juga dijadikan ajang agitasi, provokasi atau offensive kepada pihak lain, yah kita masih bisa memilih kok ... jenis blog apa yang bakal menjadi "makanan" kita ..

Terlepas dari semua itu, saya memandang blog bisa menjadi bahan pendidikan politik bagi semua orang, yang diawali dengan kebebasan mengeluarkan pendapat, ide, kritik, sebatas hal itu tidak merupakan fitnah, agitasi atau penistaan. Dengan menulis dan membaca blog kita mendapatkan pengetahuan yang memadai sebagai referensi kita dalam mengambil keputusan dan bertindak. Kita jadi tahu untung-rugi sebuah alternatif tindakan, kita bisa menilai mana yang baik dan yang buruk ... dan kita dapat bersikap lebih dewasa, arif dan bijak dalam menghadapi sebuah kesempatan untuk bertindak.

Semoga penemu blog ini akan selalu dilimpahi dengan berbagai kenikmatan dan keberuntungan, karena telah membuka satu cakrawala pengetahuan di dunia maya yang menjadi semakin penting di era modern ini. Dan mari kita gunakan blog untuk sesuatu yang bertujuan positif, bermanfaat bagi kita maupun orang banyak. Go Blog ...

Friday, June 27, 2008

Kenduri Cinta

Sepanjang hidup ini kayaknya hanya satu kenduri yang pulangnya tidak "diberkati" alias dibawain uborampe berkat (baik dengan besek atau kardus putih kotak) yaitu kenduri cinta-nya emha ainun najib alias cak nun bin emha wal kyai kanjeng.

Bagi saya, di tengah carut-marut kondisi kebangsaan kita ternyata masih saja ada ruang untuk misuhi atau mengumpat diri sendiri, menertawakan ketololan kita, mengkritik dengan jenaka tanpa harus berkata beringas ... bubar ... bunuh ... sesat ... atau menegakkan mainstream atas nama apapun. Bagi Anda yang Islam, Kristen, Katholik, Kong Hu Cu, Hindu, Budha, atheis, agonis ... silakan saja dateng atau menyimak kenduri cinta dan mari kita menertawakan diri kita sampai semua energi buruk kita terbuang dan pulang dengan membawa pesan kehidupan dari interaksi kita dengan emha yang edan itu. Dengan fasihnya dia berkhotbah tentang jawa (sebagai sebuah entitas bukannya kesukuan semata), agama, politik, budaya, atau juga masalah aktual dengan gaya nJombang-nya yang bernas, blak-blakan serta jenaka. Kita dibawanya mengarungi khazanah kengawuran dunia dalam bingkai kebijakan seorang emha ... bagaimana ia bicara tentang keadilan di tengah ketidakadilan yang merajalela, kejujuran di antara kebohongan yang sudah mendarah daging, dan idealisme sebagai sebuah bangsa di dalam keterpurukan yang sudah mulai parah ini yang akhirnya keluar dengan sebuah pemahaman ... kita harus melakukan sesuatu! Ndandani atau memperbaiki bangsa ini tidak perlu dengan teriak-teriak dan menunjukkan jari kita ke arah orang lain. Marilah mulai dari diri kita sendiri .... Aku iki sopo seee (dengan logat nJombangan-nJogjakarta hehehehehe). Siapa dirimu ... siapa dirimu yang sejatinya? Apakah kamu sebuah Garuda yang gagah perkasa atau sekedar emprit yang di-casting (pura-pura) jadi Garuda.


Kenduri cinta tidak melulu bicara tentang cinta atau romantisme cinta semata tetapi cinta sebagai sebuah hal yang universal .. fitrah seorang manusia, bahwa cinta tidak melulu bicara tentang lawan jenis, kegagahan atau kecantikan, kekaguman dan perbudakan (katanya kalo lagi jatuh cinta orang jadi tolol bener he...), tuntutan dan penguasaan ... tetapi dalam kenduri cinta kata cinta menjadi sangat universal dan tertransformasikan dalam berbagai tindakan positif ... saya menghormati sampeyan itu sama dengan saya mencintai sampeyan ... saya mengkritik DPR yang suka ngapusi rakyat itu kadarnya sama dengan saya mencintai anggota DPR yang saya kritik itu ... saya mengatakan pemerintah tidak bisa ngatur negara (lha wong kita kaya akan minyak kok bisa harganya semelangit ini, sampeyan bisa kasih jawaban?) bukan karena saya benci sama pemerintah, SBY, JK atau Purnomo Yusgiantoro ... tapi itu ekspresi kecintaan saya sebagai seorang sahabat sebangsa ...

Sayangnya, orang seperti emha ini termasuk mahluk yang sangat langka di Indonesia. Ketika orang mulai berbicara idealisme ... masuklah ia ke sebuah kamar gelap, jauh dari selebrisitas dan gemerlapnya lampu kamera ... tidak banyak orang mau "menyentuh" atau "mengunjungi"nya ... alergi mungkin, he ...

Tapi nggak papa Cak Nun ... doa dan pinta saya semoga sampeyan tetep waras (jasmani) dan edan (rohani), bangsa ini butuh banyak orang seperti sampeyan yang edan ... mau serta mampu menyuarakan suara rakyat yang tidak pernah mau di dengar oleh mereka yang katanya "wakil rakyat" dan "pengemban amanat penderitaan rakyat".

Selamat berdasawarsa Kenduri Cinta ... rahmat Allah Ta'ala semoga selalu tercucur , makin banyak rejeki, ide dan karya bagi bangsa kita tercinta.