Wednesday, February 20, 2008

Syukur


Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana, kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak.
NN.

Mulai masuk kuliah ... mulai banyak tugas lagi, reading, papers, journals, preliminary research statement buat thesis ... ke writing center sampe lupa nulis di blog hehehe .. Lupa juga ma janji buat ngasih kuliah gratis tentang komunikasi politik hehehe ... Maaf ya ...

Kadang saking sibuknya sampe lupa waktu, lupa makan dan masak ... hari-hari rasanya cepet, belum lagi kalo profesornya &@%^$#!, wah bisa tambah keriting tuh rambut ... ini belum kelar udah ditambah yang lain ... mau protes ... wah, lagi berdiri pada pihak yang didholimi hehehe ... Jadi bener-bener ngerasain apa itu sekolah ... nggak cuma biar kita mudeng dan paham semata tapi bagaimana juga mengatur ritme hidup ini ...

Saat ada masalah beberapa teman sering curhat dan memilih jalan yang menurut saya cukup ekstrem, radikal ... bahkan cenderung merugikan orang lain. Kadang-kadang saya ngelus dada, kita kan "makan bangku" sekolah hampir 20 tahun, tapi kok masih saja ada kelakuan yang miring he ... Mbok yao dipikir dulu .. bukannya sekolah mengasah akal dan pikir kita. Kita kan bisa memilih alternatif yang moderat misalnya, win-win solution ketimbang yang radikal hehehe ... Sekolah juga nggak semata-mata nyari ilmu atau nilai tapi juga ngelmu dan value ... sesuatu yang intrinsik pada diri kita dan membedakan pribadi kita pada tiap-tiap tahapan kehidupan .. Salah satunya terimplikasikan ketika kita harus menghadapi dan menyelesaikan masalah baik berkaitan dengan diri maupun orang lain. Ketika kita tergesa dan hanya mementingkan diri .. lebih banyak perasaan yang digunakan dalam menyelesaikannya, mungkin akan beda jika kita mau sedikit tenang dan menggunakan akal kita ...kita pilah-pilih mana yang bermanfaat dan mana yang bermudharat ... ya kayak kita research lah, musti teliti dan cermat ... Insya Allah hasilnya akan lebih baik daripada grusa-grusu ..


Makanya saya jadi inget bunyi salah satu iklan yang mirip dengan pembuka blog ini ... menjadi dewasa dan atau bijaksana itu pilihan kok ... pilihan kita kalo mau sedikit berpikir ... kontemplasi dan melihat kehidupan ini tidak semata-mata transaksi materi. Selain itu ada cara yang lain yakni selalu bersyukur ... itu yang membuat kita lebih menghargai hidup ini ketimbang hanya memikirkan materi dan kekurangan kita. Meski bersyukur kadang perlu pembanding namun penerimaan kita atas fakta yang terjadi pada saat ini bisa jadi merefleksikan syukur itu ... Bersyukur punya istri/suami yang baik, setia dan pengertian, punya anak yang membanggakan, punya keluarga yang rukun ... rejeki yang lancar ... nikmat sehat ... bisa kita menghitungnya dan dikonversikan secara materi?

Itulah ... hidup ini tidak bisa hanya dilihat sebagai transaksi materi semata ... ada hal-hal lain yang lebih mulia namun mata hati kita sering terhalang untuk menikmatinya.

Marilah banyak bersyukur .. agar kita makin menikmati hidup ini dan menjadi bijaksana.

Wallahu'alam bishawab.

Saturday, January 19, 2008

Sumeleh

Sumeleh .... wekekekekek (ketawa ala chatting).
Yang jelas sumeleh bukan nama orang apalagi nama mantan ... mantan guru, temen, atau mantan presiden hehehe ...

Sebagai wong Jawa ada sedikit keberuntungan /luck berkaitan dengan apa yang disebut dengan roso-pangroso alias bagaimana merasakan kehidupan melalui hati, mata batin. Banyak orang bilang ... durung Jowo, ora Jowo ... ya karena belum bisa melihat dan merasakan dengan mata hati. Bener atau salah nggak tahu ya .. wong saya juga cuma nglakoni.

Yang jelas Jawa itu kaya dengan nilai-nilai hidup yang luar biasa, bagaimana kita menyeimbangkan antara jagat gedhe dan cilik, alam semesta dengan alam kita sebagai pribadi yang memang harus selaras .. harmonis , karena dipercaya masing-masing memiliki kekhasan dan keterkaitan. Bagi orang Barat yang lebih suka menggunakan akalnya maka fenomena bencana, gunung meletus, banjir, tsunami, gempa dan lain sebagainya disebabkan oleh sesuatu yang bisa dijelaskan secara ilmiah dan gamblang, misalnya karena tekanan lava, ketidakseimbangan daya tangkap air, lingkungan yang buruk, pergeseran bebatuan bumi di bawah laut ... tapi bagi orang Jawa mesti ada pertanda dan fenomena alam yang terjadi. Biasanya berkait dengan kuasa Tuhan, Gusti Kang Agawe Jagad, kekuasaan, wahyu ... bukan semata gejala alam biasa tapi ada hal yang merupakan sebab-akibat.

Inilah yang menjelaskan mengapa orang Jawa sangat fanatik dengan apa yang dinamakan dengan tanda-tanda alam, setiap kejadian biasanya merupakan tetenger akan terjadinya sesuatu. Kebetulan sekarang mantan presiden Suharto sedang tergolek lemah karena sakit bahkan sedang pada kondisi kritis. Fenomena alam seperti longsornya lereng Gunung Lawu dimaknai sebagai tanda akan segera berakhirnya kehidupan seorang Suharto mengingat Pak Harto pernah mendapatkan gegaman atau pusaka pegangan dari Gunug Lawu. Wallahu'alam.

Sumeleh adalah sikap tawakal yang diambil oleh orang Jawa menghadapi kehidupan ini. Pasrah dan tawakal setelah berupaya dengan menyerahkan semuanya termasuk hasilnya kepada Tuhan. Ini dibarengi dengan sikap positif mengantisipasi kehidupan seperti sabar, ikhlas dan menerima dengan lapang dada. Jadi dalam menghadapi hidup ini tidak nggoyo, jeaolous, iri hati ... melihat teman atau tetangga, saudara mendapat kesenangan, keberhasilan atau membeli barang baru ... dapat rejeki .. kita tidak ikut kemrungsung dan panas hati karena yakin akan kuasa Gusti Allah sebab orang sudah mendapatkan jatahnya masing-masing. Mau orang lain kaya dari hasil usaha atau korupsi kita tidak bingung karena yakin jatah rejeki kita sudah ada dan diatur dengan sangat adilnya.

Yo wes sumeleh wae ... sabar ... amargo gusti ora sare ..

(Tawakal saja, sabar ... karena Tuhan selalu melihat kita).

Friday, January 18, 2008

Proses dan Progres

Ada satu kemajuan yang saya dapat selain soal akademis di University of Wyoming , Laramie. Sejak minggu pertama saya sudah nekat memutuskan untuk bergabung dengan klub badminton dan secara rutin bermain di Half Acre alias gym-nya universitas setiap Jum'at pukul 6 sore sampai 10 malam. Kebetulan presiden klub badmintonnya juga orang Indonesia, memfasilitasi raket, shuttlecock dan lain sebagainya. Di Laramie yang dingin ini olahraga sangat penting untuk menjaga tekanan darah agar tetap stabil, sehat lahir dan batin. Yang jelas bisa gerak dan keluar keringat sudah luar biasa buat saya. Sesekali juga pelepasan stress karena sering berkutat dengan monitor komputer dan buku.

Pertama kali main rasanya kaya orang bloon. Maklum sudah sejak lama nggak main badminton secara serius ... sekedar ngumpul sama bapak-bapak satu RT ... Jadilah bulan-bulanan mereka yang sudah mahir ... cuma mereka juga memahami kondisi saya ... It's OK, just need more practices ... hehehe ... Belum lagi soal udara yang sangat tipis di sini, pertama kali datang main 1 set saja ngos-ngosan ... Cuma ya itu, inget peribahasa dari temen ... lungo Klaten tuku pecel ... yen tlaten mesti kecekel ... artinya kurang lebih pergi ke Klaten membeli pecel ... jika kita rajin pasti akan tercapai/teraih ...

Alhamdulillah setelah kira-kira empat bulan mulai ada kemajuan, mulai serve, positioning, smash ... trick he ... lumayan tidak mengecewakan. Dulu kalo main kalah melulu sekarang lumayan bisa menang he. Satu yang saya pelajari ya tentang progres, kemajuan ... dari nggak bisa menjadi bisa ... lumayan tidak mengecewakan. Memang semua perlu proses, seperti esensi belajar ... sedikit-demi sedikit ... akhirnya kita paham, mengerti dan bisa. Itulah makanya pentingnya belajar, sekolah .. membuat kita bisa dan paham dengan melewati proses, bukan sesuatu yang instan atau yang sekali jadi.

Manusia hidup perlu proses agar bisa mencapai apa yang dinamakan progres. Kedewasaan, kekayaan, pangkat, jabatan, kepandaian ... apapun pencapaian di dunia ini akan menjadi sangat bermakna jika dilewati melalui proses . Sesuatu yang dicapai secara instan biasanya nggak bakalan bertahan lama, banyak kelemahannya karena memang kebanyakan polesan semata, beda dengan proses yang biasanya lebih kekal karena ada nilai yang terinternalisasi. Kita bisa karena sesuatu itu melekat pada diri kita akibat proses yang berlangsung secara kontinyu. Fenomena ini menguatkan saya tentang motivasi belajar, lebih-lebih semester ini lebih banyak tugas nulis dan juga persiapan thesis. Semoga saya memiliki keteguhan untuk menjalani semua proses ini ... guna menjadi seorang Ghulam yang berprogres dan lebih baik.

Ayo belajar ... ayo berproses .. agar berprogres ... dan sukses!

Terima kasih buat Mas Winoto dan Mbak Nina yang telah mengenalkan proses dan progres melalui badminton.