Friday, April 23, 2010

SAYA adalah SAYA ..

Tadi pagi ketika sedang business breakfast dengan seorang entrepreneur wanita yang berhasil, iseng-iseng saya bertanya: "Suami kamu bertanggung jawab ga atas hidup kamu?".

Well, jawaban yang diberikan sangat jarang saya dengar.

"Suami saya orangnya bertanggung jawab. Sepanjang yang saya ketahui, dia setia, tidak pernah selingkuh, orangnya rajin dan ulet, dia cermat dalam setiap pengeluaran keuangan, dia komit pada pekerjaannya, dan dia sayang keluarga. Tetapi dia tidak bertanggung jawab atas hidup saya!"

"Lohhh, maksudnya gimana?" Saya jadi semakin tertarik mendengarnya.

"Maksud saya, suami saya tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kegembiraan saya! Ketika kami bertengkar karena berbeda persepsi; ketika dia nyuekin saya karena lelah sehabis pulang dari kantor; ketika dia melupakan ulang tahun perkawinan kami karena lagi bertugas ke luar kota, saya sedih. Saya sangat sedih."

Kemudian saya membaca sebuah artikel bahwa "SAYA yang seharusnya bertanggung jawab atas hidup saya, atas kebahagiaan, dan atas kegembiraan saya, BUKAN orang lain! Setiap manusia punya TEATER di pikirannya, dan karena TEATER tersebut adalah milik saya, kenapa saya tidak memutar film, musik yang berMANFAAT untuk menciptakan kebahagiaan dan kegembiraan saya?!"

"Mungkin suami saya belum mempunyai PETA (MAP) tentang sesuatu yang saya inginkan" --> Saya bisa memberitahunya sehingga dia paham ketimbang kami harus bertengkar.

"Mungkin suami saya lelah dan lagi tidak fokus karena pekerjaannya yang sangat menyita waktu dan tenaga" --> Saya bisa mengingatkan dia sehingga dia tidak lupa lagi ketimbang kami harus diam-diaman selama 1 minggu. WOWWW... saya terkesima dan saya lalu minta ijinnya untuk berbagi pengalaman dan diskusi BERHARGA ini kepada rekan-rekan.

Entah SEKARANG maupun NANTI, bahwa Anda semua yang berTANGGUNG JAWAB atas PIKIRAN dan PERASAAN Anda. Jangan berharap suami, pasangan, rekan kerja, teman, orang lain bisa mengerti Anda dan membuat Anda bahagia, senang, atau bergembira. Mungkin bisa, sekali-sekali, tetapi most of the time, Anda sendirilah yang menentukan dan mendesign pikiran dan perasaan Anda!

SUKSES selalu untuk Anda dan selamat melanjutkan kembali aktivitas Anda!

(dari seorang teman di sebuah milis)

Kadang kita malah berlaku sebaliknya, sangat memiliki ketergantungan kepada orang lain sehingga ketika gagal dengan mudahnya kita akan menyalahkan atau mengkambinghitamkan orang lain.

Mari kita belajar dan memulai berkata inilah SAYA .. dan SAYA bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan.

Semoga hari kita menyenangkan!


Monday, April 13, 2009

Setelah pesta usai ..

Pemilu baru saja kelar, orang bilang pesta demokrasi .. saya protes, demokrasi nggak ada pestanya. Cuma akal-akalan untuk membenarkan pemilu sebagai ajang jor-joran yang menyenangkan buat orang-orang tapi cuma lima tahun sekali!
Ada yang bilang pemilu = pembikin pilu .. owwwalaaah ... bener juga.
Gimana enggak pilu wong saben hari dibuai dengan janji-janji yang nggak jelas bakal terealisasi atau tidak (kebanyakan sih tidak he ..)
Kembali ke pesta, ada yang jadi host, ada hidangan dan asyik-asyiknya .. tapi setelah pesta usai, mau ngapain? Siapa yang bersihin sisa-sisa makanan dan kotoran, wong host-nya saja nggak jelas. Siapa yang mau mbayari tagihan-tagihan demokrasi kita ... efek 5 tahun ke depan siapa yang bisa njamin? Apakah bapak-bapak dan ibu-ibu yang keras bersuara di atas panggung itu? Atau mbak-mbak yang goyang-goyang kayak uler itu?
Jangan percaya kalau pemilu = pesta demokrasi! Dalam literatur pemilu dan ilmu politik, nggak bakalan ada tuh terminologi begituan ...
Kalau sudah begini repot, pesta bubar ... siapa yang mau bebenah?
Bangsa yang aneh ...     

Sunday, February 1, 2009

Jangan percaya IKLAN POLITIK

Selalu saja ada yang menarik dari fenomena politik di keseharian kita. Cobalah cermati di TV, radio, atau di pinggir-pinggir jalan. Kalau tidak bicara tentang pilihlah saya .. maka itu akan berupa keberhasilan partai ini atau itu, menjaga dan menggundang konstituen untuk tetap loyal dan memilih partai itu.
Hasilnya ...?
Namanya iklan ya mesti yang bagus-bagus doang ...
Pernahkah kita berpikir ..

Kenapa kok iklannya baru akhir-akhir ini saja?
Mengapa kok iklan itu tidak muncul pas rakyat sedang sekarat karena nggak ada minyak tanah, beras atau berdesak-desakan minta sumbangan?
Mengapa juga mesti main klaim karena partai ini lah yang sudah ikut menyukseskan program ini-itu, bukan pada saat salah satu oknum (kata yang halus sebagai pengganti TERSANGKA!) fungsionaris partai tertangkap basah korupsi, ngamar di hotel atau mbolos acara sidang?

Kata Pak Eko, salah satu pengelola sekolah privat yang cukup favorit di Ungaran, sekolahnya tidak mau pasang iklan atau bikin brosur untuk dibagi-bagikan dan ditawarkan ke masyarakat. Bagi dia, itu (segala bentuk brosur dan alat sosialisasi) tidak lebih dari sekedar mengemis dan minta belas kasihan dengan berkedok pencitraan yang apus-apusan (wah, waktu pak Eko cerita ini sambil bersemangat ria loh..) Lha wong desain bisa dipesen, kalimat bisa dikarang dan prestasi bisa di-klaim ... gampang tho? Dan yang jelas, nggak mungkin di brosur itu cerita yang jelek-jelek. Kalau bisa ya yang bagus-bagus ... kalo perlu dikarang-karang dikit kan ga papa tho? hehehe

Jadi sudah tahu kan? 
Cermati iklan politik dan jangan langsung percaya: bukankah kita punya otak buat mikir? huehuehue