Saturday, March 15, 2008

Mas-masku ...



Hari ini ada kesempatan jalan bareng ke Cheyenne ... ibukota Wyoming State bareng sama mas Winoto+mbak Nina, bang Victor+mbak Vina+Jonatan, mas David, Khairu, Wija dan Fahmi ... padahal asli jik ngantuk dan kita cuma punya waktu 15 menit dari jam 11.45 AM, akhire yo ra adus hehehe ...
Jalan ke Cheyenne beda banget sama jalan ke Fort Collins -rute rutin ke Denver-, lebih sepi, sempit ... tapi jalannya kanan-kiri penuh dengan pemandangan yang elok .. Jare Wija akeh wong ngepeni uyah ... emange Rembang? wong salju sing nglumpuk kok ..
Tujuan kita pertama jelas warung makan, tapi jangan harap warung tegal atau warung padang, mas Win dan mbak Nina langsung membawa kita ke Twin Dragon, sebuah restoran China di downtown-nya Cheyenne. Memang selama di Amerika, masakan yang familiar ya masakan China, seperti New Mandarin di Laramie atau satu lagi deket H-Mart di Parker Road Denver. Dengan model buffet kita hanya merogoh maksimal 10 dolar untuk menikmati masakan yang tersaji sepuasnya, termasuk salad dan ice cream. Tapi sebelum masuk baca bismillah sama istighfar sebanyak-banyaknya ...
Twin Dragon ada di 1809 Carey Avenue, pas kami masuk kami harus nunggu karena emang lagi sibuk (jam buffet biasanya padet, 11 sampe 2 siang), dan hal yang mengejutkan adalah .... hampir semua pelayannya adalah orang Indonesia! Walamaaaaak ....
Kulo saking Suroboyo, Malang, Menado .... sugeng rawuh ...
Whe lha ...
Jadilah kita seperti pelanggan kehormatan, dilayani dengan sepenuh hati ... sambil sesekali mereka ngobrol ... nanya asal, guyon soal onde-onde, ayam goreng kalasan sampe es grim ... es-nya arek suroboyo hehehe .. Ternyata kebanyakan mereka sudah lama ada di sini .. dan berangkat melalui PJTKI. Masya Allah .. demi keluarga mereka harus bekerja di tempat yang sangat jauh ini ... (inget ya, uang yang kita dapat dari ortu kita itu bukan dari sablonan mereka ... tapi dengan pengorbanan dan jerih payah mereka bekerja ... seperti mas-mas ini, jauh dari Indonesia buat kerja di Cheyenne ... the US).
Selama ngobrol dengan mereka ya rasanya seneng ... saya sempet was-was kalo juragan mereka marah, tapi alhamdulillah baik-baik saja ...
Saat yang menyedihkan tentu saat berpisah .. kami harus melanjutkan perjalanan dan mereka harus kembali bekerja ... sempet juga saya mengambil foto mereka dengan janji untuk saya kirim via e-mail. Mas-mas itu kemudian memberi sangu kita 6 buah sambel (wuiiih, kebayang enaknya) sama dua doos cookies, untuk di perjalanan katanya ...
Saya jabat tangan mereka satu-satu dengan erat sambil berdoa, semoga waras, slamet, seger, sumyah, tentren ayem ... menyemangati mereka untuk tetap optimis dalam bekerja meski jauh dari keluarga ... dan mereka kembali bekerja.
Malam ini saya kirim foto-foto itu via email dan mas Winardi membalasnya (Ya Allah ... sampek lupa kenalan sopo wae jenenge ....).
Suwun-suwun ... dan mendoakan semoga sekolah kami lancar .. cepet lulus ... pulang jadi mentri .. tapi jangan lupa sama mereka .. orang kecil, tulisnya.
Ada keharuan yang begitu menyesak di dada membaca sebuah pesan yang jujur itu. Kurang opo tho Indonesia ... kok sampe mas-mas itu harus jauh bekerja? Meninggalkan keluarga dan orang-orang tercinta ..
Hati saya makin sesak ketika dalam perjalanan kami berdiskusi tentang perilaku pejabat birokrasi kita yang bikin negeri Indonesia ini acakadut ... kerakusan dan ke-egoisan mereka membuat jutaan anak bangsa ini harus menderita. Menjual minyak, tambang, lisensi monopoli kepada perusahaan asing dengan harga murah plus komisi pribadi, namun tidak peduli kepada jutaan warga lain yang butuh dan tidak mampu mendapatkannya.
Mas-masku ... sampeyan semua adalah pahlawan keluarga .. semoga Allah Ta'ala melimpahi dengan kesehatan dan semangat untuk bekerja di negeri orang meski jauh dari keluarga. Dan semoga sampeyan semua dapat mencapai cita-cita untuk hidup terhormat dan bermartabat di tanah air kita ... kelak ...



Friday, March 7, 2008

Logika sosial kita

Hari terakhir ini banyak musibah yang terjadi, mulai kematian karena kelaparan, antre minyak tanah, dirampok, meninggal di rumah sakit karena nggak mampu menunjukkan surat keterangan miskin (miskin saja kok masih harus pake surat ...). Bangsa yang aneh ...
Peristiwa terakhir ini sangat menyesakkan, seorang istri meninggal karena asma akut dan sedang hamil tua di sebuah rumah sakit pemerintah di Purwokerto sementara suaminya kebingungan mencari surat keterangan miskin. Sudah miskin kok ndadak pake surat keterangan gitu lho ... apa dari KTP nggak kelihatan ... ? Hehehe ...
Coba membandingkan dengan pelayanan kesehatan di Amerika jelas jauh, tapi ada satu hal yang menurut saya patut kita tiru. Suatu malam saya main badminton di Gym ... e ndilalah ada seorang teman yang kesampluk raket (pas lagi main ganda, jadi hati-hati yang suka main ganda, mesti jaga jarak!) dahinya sampe berdarah-darah (mungkin ada yang sobek), seketika itu juga kami membawanya ke emergency room alias instalasi gawat darurat ....
Begitu kami datang, temen saya yang kesampluk raket tadi nggak ditanyai apa-apa selain nama dan alamat ... habis itu mak bledeng masuk kamar operasi ... kami yang di luar diayem-ayem sama paramedisnya, nggak papa cuma sobek sedikit ... sebentar juga kelar ... Sebentar? Nggak juga, kami harus menunggu selama 2 jam ... gak tahu di dalam diapain, tapi kata temen saya ... setelah dilihat lukanya nggak berbahaya, ya diobservasi dulu ada dampak yang lain nggak ... katanya juga sempet di rontgen segala .... Dua jam keluar wajahnya tidak sestres saat masuk ... lukanya nggak dijahit cuma dilem doang ... padahal kalo dijahit mungkin butuh minimal 4 'kali ya ... wong darahnya sejak dari gym sampe ER ngocor terus sampe handuknya belepotan darah. Udah selesai gitu ... eh langsung pulang, dahi udah dilem dikasih obat pula ... trus dibiarin pulang ...lho? bayarnya?
Tenang aja, bayarnya nanti-nanti ... ditagihkan ... kan punya asuransi ...
Saya heran, teman saya langsung di-treatment karena dia mahasiswa, bukan warganegara AS atau karena punya asuransi? Selidik punya selidik .. punya asuransi atau nggak bukan sebuah masalah, kalo kita nggak mampu kita bisa ngurus suratnya, tapi treatment alias tindakan bisa dilakukan dulu .... yang penting si orang ini bisa nggak kelamaan menderita ...
Lha di kita? dilihat dulu kalo pasiennya kelihatan nggak mampu ya dikatung-katung dulu (pengalaman saya di RS yang sama dengan ibu hamil-asma-miskin meninggal nggak beda .... karena kecelakaan saya dibawa ke RS tersebut tapi dibiarin selama beberapa jam ...), suruh nyari jaminan lah, surat keterangan lah ... nggak langsung di-treatment ... jadi sakitnya bakal tambah laaamaaaaaaa .....
Kok bisa ya? Apa paramedis itu lupa sama sumpahnya untuk menolong orang karena kemanusiaan, bukan karena asuransi, surat keterangan miskin atau dompet tebel pasiennya .... yang penting kan si pasien selamat dulu ....Eh, katanya juga ada Asuransi Kesehatan Miskin(ASKESKIN) tapi praktiknya sama saja ... nyari surat keterangan miskin lah ... emang pemegang KARTU ASKESKIN itu sebangsa AS si ibu yang mau-maunya ngasih uang 6 milyar ke orang yang katanya nggak dikenal (?), please deh .... Bukannya KARTU AKSESKIN itu saja sudah menunjukkan kalo dia miskin? Kalo nggak percaya kenapa nggak dari rumah sakit aja yang datang ke rumah, ngeliat rumahnya kayak apa ... menaksir harta kekayaannya seberapa hehehehe ...
Negeri yang aneh .. orang miskin ... sudah miskin kok masih dipersulit ... gimana pada mau masuk sorga hehehehe ....
Sudah tahu mayoritas orang Indonesia miskin, dapet kartu asuransi kesehatan miskin ... eeee masih ditanya apa sampeyan bener-bener miskin? Di mana logika sosial kita? Apakah miskin ini sebuah status yang harus dijelaskan secara hitam putih? Jika ya .. apa kriterianya? Lihatlah ... miskin di Indonesia ada beberapa versi lho ... versi BPS, BAPPENAS, BKKBN, DINSOS ... dan semua definisi ga ada yang sama ... Kalo diibaratkan perang, mendefinisikan dan mengidentifikasikan musuh saja nggak jelas gimana mau menang perangnya?
Sudah miskin, punya kartu miskin, masih disuruh ngaku dan mbuktiin kalo memang bener-bener miskin ...
Capeeeeee deeech ....

Saturday, March 1, 2008

Sudahkah kita peduli?


Membaca artikel di detik.com kemarin, tentang seorang ibu hamil yang meninggal bersama janinnya, yang disusul anak bungsunya yang berumur 5 tahun karena diare akut dan kelaparan, tidak mampu membeli beras, membuat saya merasa nelangsa dan meneteskan air mata. Betapa Indonesiaku yang kaya raya tidak mampu berbuat banyak terhadap rakyatnya yang (masih banyak) miskin papa. Kejadian di Makasar itu menyisakan pertanyaan bagi saya, sejauh mana demokrasi (lokal) yang digembar-gemborkan akan meningkatkan kualitas kesejahteraan rakyatnya? Ibu itu (semoga Allah Ta'ala memberikan ganjaran surga atas kemiskinan dan penderitaannya), harus hidup dengan menyewa petak rumah yang atas kebaikan hati pemiliknya dibebaskan dari biaya sewa. Suaminya hanya seorang buruh dan harus menghidupi 4 anaknya. Si ibu tengah hamil sehingga tidak bisa bekerja membantu pendapatan rumah tangga. Kadang ia membeli beras 1 liter untuk 3 hari dengan dimasak menjadi bubur, tanpa lauk dan asupan gizi yang lain. Ia enggan untuk sekedar berhutang di warung dan lebih mementingkan uang dari suaminya meski sedikit. 1 liter beras untuk 6 jiwa selama 3 hari, di Indonesia kita? TRAGIS!
Sebelumnya ada berita juga seorang anak yang mati bunuh diri di Madiun karena sakit maag akut ... dan miskin! Ia nekat mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri lantaran tidak tahan dengan penyakit maag-nya (karena jarang makan) dan kemiskinannya (ibunya katanya bekerja di Sumatera, meninggalkan ia sejak kecil dan tidak pernah mengirim uang atau kabar, bapaknya buruh tani yang diperas tenaganya sejak pagi buta sampai senja dengan hasil yang tak seberapa).
Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini?
Kita tidak bisa menyalahkan kemiskinan atau kemalasan mereka karena pada dasarnya mereka hidup pada sebuah sistem yang digerakkan oleh mereka-mereka yang memiliki otoritas (baca: POLITISI dan BIROKRAT!). Bagi saya mereka ini yang patut bertanggung jawab atas semua kejadian ini ... yang menunjukkan bagaimana tidak becusnya mereka mengelola sistem .. mengelola negara ini!
Di mana janji-janji kampanye yang pernah berbuih busa dilontarkan? Di mana sumpah jabatan ... DEMI ALLAH ... yang mereka semua ucapkan saat menjelang memangku otoritas publik?
Banyak di antara teman saya yang cengengesan ketika melakukan sumpah jabatan ... banyak juga pendahulu saya yang bercerita aneka rupa trik saat mengucapkan sumpah itu ... bagi saya semua itu sungguh mengenaskan. Orang-orang terpilih untuk menjadi abdi negara dan masyarakat , baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, banyak juga yang menganggap enteng amanah ini. Seolah sumpah jabatan hanya formalitas .. toh sistem kita selama ini juga begini, nggak perlu menjadi idealis atau sok pahlawan!
Apa yang bisa kita harapkan dari mental (penjabat) seperti ini?
Kadang kita nggak boleh bergantung 100 % kepada para penjabat kita. Kita, sebagai sistem kecil dalam masyarakat mesti mampu berswadaya sendiri. Caranya ya kita PEDULI dengan lingkungan kita, menghidupkan nadi terkecil mulai dari RT dengan kegiatan-kegiatan yang produktif. Juga peduli kalo ada tetangga yang kekurangan ... coba kalo satu RT saling peduli .. mau bantu yang lemah/kurang, bisa jadi contoh di RW, menjalar ke RW lain ... bisa jadi contoh sebuah keswadayaan komunitas. Insya Allah nggak akan ada lagi orang yang mati karena kelaparan sebab semua orang peduli dengan sesamanya satu sama lain. Ajaran agama manapun juga mengharuskan kita menyisihkan sebagian penghasilannya untuk orang lain, ya untuk keperluan semacam ini misalnya.
Jika kita peduli ... atau paling tidak mau memulai untuk peduli .. akan banyak permasalahan bangsa ini bisa kita selesaikan, dimulai dengan kepedulian kecil kepada sesama di sekitar kita.
Sudahkah kita peduli?